Ketahui Risiko Paparan Asap Rokok yang Patut Diwaspadai Thursday, 25 February 2021 13:19

KETUA Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) Jawa Timur Dra. Arie Soeripan, M.M ketika menjadi pembicara dalam acara ICCD 2021 pada Selasa (22/02/2021). (Foto: Erika Eight Novanty)

UNAIR NEWS – Dilansir dari Tobacco Atlas, Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah konsumsi rokok terbanyak di dunia. Yaitu 173 miliar batang pada tahun 2006 dan meningkat secara signifikan menjadi 316 miliar batang pada tahun 2018. Dengan jumlah yang fantastis tersebut, paparan asap rokok telah mengancam 75 persen penduduk Indonesia sebagai perokok pasif.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR Dr. Siti Rahayu Nadhiroh, S.KM., M.Kes mengungkapkan, rokok diketahui menjadi faktor risiko utama empat penyakit tidak menular paling banyak. Di antaranya yakni pembuluh darah, diabetes, kanker, penyakit paru obstruktif kronis, hingga penyakit jantung.

Nadhiroh –sapaan akrabnya- menambahkan, rokok juga mampu mengakibatkan gangguan proses kognitif pada otak bagian depan. Atau yang dalam bahasa medis disebut prefrontal cortex.

“Semakin lama menjalani kebiasaan rokok, maka semakin luas penurunan fungsi prefrontal cortex. Ini bersifat progresif dan dibawa hingga dewasa,” katanya, Selasa (22/02/2021), dalam acara ICCD 2021 yang digagas oleh Riset Grup Tobacco Control FKM bersama Tobacco Control Support Center (TCSC) IAKMI.

Ia juga menyebut, asap rokok menjadi ancaman bagi tumbuh kembang balita. Menurut Nadhiroh, keberadaan kadmium dalam asap rokok dapat mengganggu keseimbangan kadmium-zinc dan kadmium-kalsium dalam tubuh. Sehingga mengakibatkan hambatan pembentukan tulang dan memperlambat pertumbuhan panjang badan.

“Paparan asap rokok, baik selama masa kehamilan maupun selama masa tumbuh kembang anak, berhubungan dengan risiko stunting. Khususnya pada negara dengan pendapatan menengah ke bawah,” terangnya.

Lantas, mengapa asap rokok berbahaya bagi kesehatan? Dra. Arie Soeripan, M.M dari Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT) Jawa Timur menjelaskan, asap yang dihirup oleh perokok pasif turut menyerap lebih dari 4.000 senyawa kimia.

Yang mana, lanjutnya, 250 jenis di antaranya dikenal sangat beracun. Parahnya, lebih dari 50 jenisnya ini dapat memicu kanker.

“Terlebih lagi, paparan asap rokok tidak melalui filter. Sehingga menyebabkan gangguan kesehatan bagi yang terpapar,” ujarnya.

PEMAPARAN materi yang dilakukan oleh Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR Dr. Siti Rahayu Nadhiroh, S.KM., M.Kes dalam acara ICCD 2021 pada Selasa (22/02/2021). (Foto: Erika Eight Novanty)

Sementara itu, World Health Organization (WHO) memperkirakan setidaknya terdapat 8 juta kematian yang disebabkan oleh asap rokok. Sebanyak 1,2  juta kasus di antaranya terjadi pada perokok pasif.

Menurut Arie Soeripan, terdapat sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk menghindari paparan asap rokok. Di antaranya dengan tidak berada di sekitar orang yang merokok dan menggunakan masker.

Selain itu, mengonsumsi air putih juga dianjurkan untuk membersihkan tenggorokan dan saluran pernapasan dari asap rokok. Serta dengan mengganti pakaian yang terpapar asap rokok.

Sebagai tambahan informasi, diskusi mengenai paparan asap rokok tersebut digelar oleh FKM UNAIR Bersama TCSC IAKMI. Tepatnya dalam rangka memperingati Hari Kanker Anak Sedunia yang jatuh pada Senin (15/02/2021). (*)

Sumber: http://news.unair.ac.id/2021/02/25/ketahui-risiko-paparan-asap-rokok-yang-patut-diwaspadai/

 

Tags : Excellence with Morality, Airlangga University, Campus Living