Tim Medik FKH UNAIR Terjun ke Lokasi Paus Terdampar di Pantai Modung Bangkalan Tuesday, 23 February 2021 12:31

Tim FKH UNAIR terjun ke lokasi paus terdampar di Pantai Modung, Bangkalan, Madura (Foto : Istimewa)

UNAIR NEWS – Tim medik Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) terjun ke lokasi paus terdampar di Pantai Modung, Bangkalan, Madura pada Jum’at (19/2/2021). Tim yang turun ke lapangan yaitu drh. Bilqisthi Ari Putra (drh. Bilqisthi) selaku Staf Patologi FKH UNAIR dan drh. Happy Ferdiansyah selaku Peneliti Satwa Konservasi. Tim berangkat dari Surabaya pada pukul tujuh pagi dan sampai di lokasi sekitar pukul sepuluh pagi. 

Kepada UNAIR NEWS, drh. Bilqisthi menjelaskan bahwa total terdapat lima puluh dua paus yang terdampar. Ketika pertama kali ditemukan oleh nelayan, empat puluh sembilan paus telah mati, dan tiga diantaranya hidup. Namun, dari tiga yang hidup tersebut, dua diantaranya mati ketika berupaya diselamatkan, sehingga hanya tersisa satu yang hidup dan berhasil dikembalikan ke laut.

“Jenis paus yang terdampar tersebut adalah paus short fin pilot whale (paus pilot sirip pendek,red),” lanjutnya.

Ketika pertama kali sampai di lokasi, tim dibagi menjadi dua yaitu tim antemortem dan postmortem. Tim antemortem berfokus pada paus yang masih hidup. Yaitu melakukan penyelamatan dan pemantauan kesehatan terhadap paus yang masih hidup. 

Tim postmortem berfokus pada paus yang sudah mati. Yaitu melakukan identifikasi jenis kelamin, ukuran, usia. Setelah melakukan identifikasi, kemudian dilakukan seleksi untuk memilih paus yang paling dominan untuk dijadikan sebagai bahan otopsi. 

Tidak semua paus dapat diidentifikasi karena disebabkan oleh arus laut yang cukup kencang dan ketinggian air. Dari empat puluh sembilan paus yang mati, tiga puluh empat paus dapat diidentifikasi oleh tim FKH. Sementara tiga dari paus yang dapat teridentifikasi tersebut kemudian dilakukan pemeriksaan otopsi.

“Tiga paus yang diotopsi, dua diantaranya jantan dan satu lainnya adalah betina,” jelas drh. Bilqisthi. 

Pemilihan paus untuk dilakukan otopsi, dilakukan dengan pertimbangan berbasis ukuran dan kondisi. Paus yang dipilih untuk diotopsi adalah yang paling besar dengan asumsi bahwa paus yang paling besar tersebut adalah ketua koloni dengan panjang lima setengah meter dan berjenis kelamin jantan. 

Sementara paus betina yang dipilih adalah yang berukuran paling besar dengan panjang tiga setengah meter. Paus yang dipilih juga dipastikan dalam kondisi tidak busuk, masih baik untuk dilakukan otopsi. 

“Otopsi baru dapat dilakukan pada pukul lima sore dengan dibantu pengamanan dari polsek, koramil dan pengurus desa setempat,” terangnya. 

Bantuan tersebut tidak hanya berupa bantuan pengamanan masyarakat. Namun juga bantuan penyediaan peralatan serta keperluan lagi yang diperlukan untuk otopsi. Otopsi memakan waktu kurang lebih empat jam setengah karena otopsi selesai dilakukan sekitar pukul setengah sepuluh.

Tim FKH UNAIR terjun ke lokasi paus terdampar di Pantai Modung, Bangkalan, Madura (Foto : Istimewa)

Tidak hanya melakukan otopsi di tempat lokasi kejadian. Tim FKH juga mengambil beberapa sampel untuk untuk pemeriksaan patologi di laboratorium FKH UNAIR. Pemeriksaan patologi tersebut dimaksudkan untuk mengetahui penyebab pasti terdamparnya lima puluh dua paus tersebut.

“Dugaan awal masih belum bisa kami pastikan karena ketika kita lihat tidak ada gangguan sonar pada paus, dugaan aktivitas vulkanik bawah laut juga tidak. Jadi perlu kami dalami melalui pemeriksaan patologi,” jelas drh. Bilqisthi. 

Tim juga pertimbangkan faktor alam karena sebelum kejadian tersebut sempat terjadi puting beliung di selat Madura. Namun dugaan tersebut sebagai penyebab peristiwa terdampar paus masih didiskusikan dengan menunggu hasil lab. 

Menurut drh. Bilqisthi, paus short fin pilot whale hidup berkelompok. Ketika bermigrasi, kelompok tersebut akan mengikuti ketua koloninya. Apabila ketua koloni mati, maka secara hirarki, akan digantikan secara otomatis oleh pejantan yang lebih tua dibawah ketua koloni yang telah mati. Namun jika ketua koloni sakit dan belum mati, maka kelompok paus akan tetap mengikuti ketua koloni tersebut.

Selain tim medik, terdapat enam relawan mahasiswa FKH UNAIR yang juga ikut terjun ke lapangan untuk membantu. Diantaranya adalah Ramadhanty T, Yustisiane Ruth R, Ary Setya Hernanda, Akmal K. Ishak, Agus Arisma, dan Shafira R. Ruyani.

Sumber: http://news.unair.ac.id/2021/02/20/tim-medik-fkh-unair-terjun-ke-lokasi-paus-terdampar-di-pantai-modung-bangkalan/

 

Tags : Excellence with Morality, Airlangga University, Campus Living