Gerakan Kembali ke Obat Generik Wednesday, 03 March 2010
FF – Warta Unair

Munculnya berbagai penyakit yang disebabkan oleh gaya hidup tidak hanya menyerang masyarakat kelas atas saja, namun juga masyarakat kelas bawah. Ironisnya harga obat yang selangit membuat masyarakat kelas bawah tidak mampu menjangkaunya. Gerakan kembali ke obat generik merupakan solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

“Gerakan kembali ke obat generik di Indonesia merupakan ide bagus,” kata Prof. Tsuneji Nagai, Ph.D., D.SC., President of NPO Generic Drug Association di Jepang. Kondisi Farmasi di Jepang hampir sama dengan di Indonesia. “Obat generik juga digunakan di Jepang,” tambahnya.
Helmy Yusuf, Ssi., M.Sc. Apt., dosen Farmasi Universitas Airlangga (Unair) mengatakan bahwa tidak ada masalah dengan pemakaian obat generik asal memenuhi standar. Standar yang harus dipenuhi yaitu Cara Pembuatan Obat Baik (CPOB) dan standar bio ekuivalensi.

Mahalnya harga obat di Indonesia disebabkan karena industri farmasi masih mengimpor bahan baku. Selain itu, investasi di bidang riset industri farmasi hampir tidak ada. “Industri farmasi di Indonesia masih tergantung dengan industri farmasi di luar negeri,” kata Helmy.

Selain berkomentar tentang obat generik, Prof. Nagai juga menyampaikan materi Drug Delivery Systems atau sistem penghantar obat (DDS) saat mengisi kuliah tamu di Fakultas Farmasi (FF) Unair (2/3). Penerapan sistem penghantar obat yang baik dapat membuat obat bekerja lebih efektif dalam menyembuhkan penyakit. Selain itu, sistem penghantar obat juga dapat meminimalisasi efek samping dari penggunaan obat.

Menurut Prof. Nagai, penggabungan antara material, information, dan life science dibutuhkan untuk mengembangkan sistem penghantar obat karena ketiga bidang tersebut tidak bisa berdiri sendiri. “Kolaborasi antara pihak akademika, industri, dan pemerintah sangat diperlukan untuk mewujudkan hal tersebut,” kata Prof. Nagai. “Harus ada hubungan timbal balik dalam kolaborasi ini, bukan kolaborasi semu yang hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu,” tambahnya. DDS kemungkinan bisa berhasil diterapkan di Indonesia dibandingkan di Jepang karena orang Indonesia lebih aware dan tidak mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.