fbpx

Universitas Airlangga Official Website

Dosen FK UNAIR Sebut Hydrogen Fontaine Belum Diketahui Memiliki Standar Medis

Dosen Spesialis Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) Dr Musofa Rusli dr Sp PD. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

UNAIR NEWS – Maraknya pemakaian hydrogen fontaine dengan teknologi Proton Exchange Membrane (PEM) yang diklaim dapat mencegah dari berbagai macam penyakit. Dosen Spesialis Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) Dr Musofa Rusli dr Sp PD merespons fenomena tersebut. Menurutnya penggunaan terapi hidrogen saat ini masih diteliti oleh beberapa ilmuwan, baik dalam riset model tikus maupun manusia. 

“Memang ada beberapa efek hipotetikal (red: teoritis) yang diharapkan dapat mengobati beberapa penyakit. Tapi hingga hari ini belum ada bukti ilmiah tentang terapi hidrogen dapat mencegah penyakit,’’ ungkapnya.

Hal itu dikatakan karena ada banyak riset molekuler tentang molekul protein. Secara umum risetnya tentang efek terapi untuk anti-oxidation, anti-inflammation, dan anti-apoptosis. Bahkan narasi yang dijual, inhalasi gas hidrogen dapat berdifusi dari paru-paru ke pembuluh darah, dan lebih mudah menembus sawar darah otak. Selain itu juga dapat berdifusi dari paru-paru ke jantung, sehingga dapat langsung dipompa ke seluruh tubuh.

Staf Departemen Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Dr Soetomo menilai hal itu masih terlalu abstrak untuk dijelaskan ke masyarakat awam. Terlebih belum ada riset yang membandingkan hydrogen fontaine dengan air putih. Pasalnya belum memiliki standar medis yang diuji di Laboratorium Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) secara rutin. 

Berbeda dengan alat mesin nebulizer hidrogen, kata dr Musofa, yang sudah dalam level standar medical device. Kalau Nebulizer ini mengurai air menjadi 66 persen hidrogen dan 33 persen oksigen yang fungsi utamanya meningkatkan tingkat penyerapan obat dalam tubuh. 

Ia menegaskan Nebulizer hidrogen medis pun masih dalam riset terutama di China. Disamping itu penggunaan hydrogen fontaine juga belum bisa dianjurkan oleh tenaga medis manapun di Indonesia sebab memang belum ada bukti ilmiah yang cukup.

Dengan demikian dosen UNAIR itu menyarankan sebaiknya mencegah dan mengobati penyakit sesuai standar medis yang ada. “Kalau misal masih ingin mencoba terapi alternatif, sebaiknya terapi primernya dilakukan dulu,’’ ucapnya.

Penulis: Viradyah Lulut Santosa

Editor: Khefti Al Mawalia