fbpx

Universitas Airlangga Official Website

Pelajaran Berharga Dari ‘Rektor UNAIR Online’ Alumni Lintas Generasi

Pada hari Sabtu tanggal 2 Juli 2022 sehabis membaca buku textbook ekonomi, saya dari Sidoarjo naik sepeda motor Honda Beat bergegas menuju toko roti membeli roti croissant isi ikan tuna dan apple pie dan saya bawa langsung ke kediaman senior saya yang saya hormati Pak Mashariono di Jalan Manyar Indah Surabaya. Tujuan saya itu memang besuk Pak Mas setelah saya dapat jawaban dari Dik Sapto, putra Pak Mas, bahwa beliau sudah ada di rumah kediaman setelah dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Angkatan Laut. Ini adalah besuk saya yang kedua kali setelah saya besuk beliau di Rumah Sakit Universitas Airlangga beberapa bulan yang lalu.

Rektor UNAIR Online

Dengan segala hormat kepada semua senior saya di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta para senior saya di fakultas-fakultas di lingkungan UNAIR yang semuanya punya perhatian terhadap almamater dan alumni, saya jarang menemukan sosok alumni seperti Pak Mas. Di usia yang sudah senior, beliau selalu berada di setiap kegiatan UNAIR dan alumni. Saya kebetulan satu kepengurusan dengan beliau di Ikatan alumni FE UNAIR sejak lebih dari 15 tahun lalu menyaksikan sendiri stamina beliau mengikuti apapun kegiatan almamater dan alumni, tidak hanya di Surabaya tapi juga di beberapa kota di Tanah Air ini.

Padahal, beliau adalah angkatan supuh yaitu angkatan 1964 di FE UNAIR (namanya belum FEB, nomor mahasiswa beliau 2841) sedangkan saya angkatan FE UNAIR 1973 (nomor mahasiswa 4475). Namun, beliau bersedia dengan ikhlas tanpa pamrih untuk bersilaturahim dan memberikan motivasi pada angkatan yang jauh di bawah beliau sampai angkatan 2000-an. Saking sibuknya mengurusi almamater dan alumni, ada yang bercanda menyebut Pak Mas itu Rektor UNAIR tapi Rektor Online, karena aktif muncul di WA grup alumni.

Bersama beliau kami-kami angkatan yang lebih muda bersusah payah membangun solidaritas alumni untuk menyumbangkan dedikasinya demi almamater dan alumni. Saya menyaksikan sendiri betapa susahnya membangun solidaritas itu di tengah-tengan pendapat gak pateken atau I do not care dengan alumni karena dianggap tidak ada manfaatnya. Serta, di tengah-tengah sikap situasi politik praktis kampus, Pak Mas, ketua Ikafe lama yaitu senior saya Mas Supardi dan almarhum cak Hari Basuni dan kami-kami yang angktan 70 dan 80-an memberikan dorongan kepada alumni dan mengetuk kesadaran mereka agar solid bergabung di ikatan alumni dan kegatannya supaya sederajat dengan alumni UGM – Kagama, alumni UI – Iluni, dan alumni perguruan-perguruan tinggi ternama lainnya. Kalau tidak, salah nama Ikafe itu sendiri adalah usulan Pak Mas. Perhatian yang sama juga beliau berikan pada IKA UNAIR.

Lambat laun banyak alumni FE UNAIR lainnya mau bergabung dan hadir di setiap acara Ikafe. Sampai-sampai Mas Itok – begitu panggilannya Pak Mas kepada Prof. Puruhito yang waktu itu menjabat Rektor UNAIR, menyebut bahwa Ikafe adalah yang paling ‘seru’ karena begitu seringnya mengadakan acara dan dihadiri banyak alumni dari berbagai angkatan. Selain itu, Pak Mas juga dikenal oleh banyak orang dari semua fakultas di UNAIR.

Saya yakin sekarang Pak Mas berbahagia melihat IKA UA – kemudian menjadi IKA UNAIR, sudah menjadi besar. Ada cabangnya dimana-mana. Semua angkatan dari semua fakultas di lingkungan UNAIR mau bergabung membesarkan almamater dan IKA UNAIR seperti sekarang ini.

Alumni yang mempraktekkan ‘Dakwah Bil Hal’

Dalam agama Islam ada istilah dakwah bil lisan dan dakwah bil hal. Yang pertama bermakna menyebarkan nilai-nilai agama yang baik lewat lisan. Dan yang kedua lewat tindakan. Kalau diibaratkan praktik dakwah itu, Pak Mas membesarkan UNAIR dan alumni dengan cara bil hal atau dengan tindakan, memberi contoh dengan tindakan tanpa banyak bicara. Saya ingat tahun 2009 ketika saya menonton TV Metro malam hari tentang gempa di Padang, Sumatra Barat, ada running text yang menyebutkan bahwa alumni UGM dan UI mengirim relawan ke Padang. Saya telepon Pak Mas kenapa kita tidak mengirim relawan karena kita punya potensi besar.

Besoknya, Pak Mas (setelah koordinasi dengan almarhum cak Hari Basuni), langsung secara cepat mengumpulkan para relawan dokter di lingkungan UNAIR bertemu di Kampus C, mengundang wartawan. Beliau punya banyak kontak di media. Hasilnya, 22 relawan dari RS Dr Soetomo dan UNAIR berangkat ke lokasi bencana di Sumatra Barat. Mereka terdiri dari dokter spesialis orthopedi, anastesi, bedah, umum, perawat, psikolog, dan mahasiswa.

Saya juga ingat ketika muncul di pikiran saya tentang konsep Airlangga Connection dimana para alumni yang sudah jadi orang bisa membantu almamater dan adik-adiknya. Seperti diketahui, banyak alumni FE yang mempunyai jabatan tinggi tapi berserakan tidak terkoordnir. Ide itu saya lontarkan ke Pak Mas. Kemudian, beliau melemparkan ide itu ke almarhum Cak Hari Basuni. Lalu kita – cak Eddy Utomo, Cak Budi W, neng Mamik dll, rapat bersama seluruh pengurus Ikafe. Hasilnya, Ikafe pada tahun 2010 mengadakan pertemuan di Hotel Le Meridien Jakarta. Ratusan alumni hadir dan kita berhasi mengidentifikasi 90 orang lebih alumni FE UNAIR yang memiliki jabatan tinggi di pemerintahan, perusahaan, dan sebagainya. Kita berhasil mengumpulkan dana untuk adik-adik mahasiswa yang memerlukan dana kuliah. Tangan dingin Pak Mas juga tertoreh di Masjid Ulul Azmi di Kampus C dan Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga.

Perlu Komunikasi

Orang yang rutin berolahraga seperti senior saya di FEB UNAIR Mas Luluk yang sekarang di Malang dan Mas Eddy Yuwono Slamet, kemudian berhenti total tidak berolahraga. Maka tubuhnya merasa tidak enak, demikian pula orang yang sering melakukan aktivitas komunikasi lalu diam karena sakit, tentu juga berpengaruh terhadap kesehatannya. Pak Mas yang asli Surabaya yang penampilannya selalu flamboyan, gallant, sekarang berbaring sakit dengan tubuh lemah. Namun daya ingatannya masih berfungsi, apalagi kalau soal alumni UNAIR, kata Bu Mashariono.

Kadang-kadang ketika nonton TV di depan tempat tidurnya dimana ada acara pertemuan, beliau nyletuk arek-arek UNAIR rapat. Ketika saya besuk beliau, jujur saya terharu hampir mau menangis melihat senior panutan saya berbaring lemah. Namun saya tahan rasa haru saya demi memberi semangat pada beliau. Kita yang muda-muda ini perlu berkomunikasi dengan beliau sekaligus mendoakannya, karena itu juga menjadi obat bagi kesembuhan Pak Mas. Allah memberikan cobaan kepada kita semua berupa kebahagian, kesedihan, dan sakit. Tapi kalau kita sabar, maka ujian itu bisa mengurangi dosa kita. Semoga beliau sabar.

Saya setuju pendapat sahabat saya satu angkatan 73 Yazid Nawawi Akuntan bahwa Pak Mas itu alumni yang tanpa pamrih memikirkan almamater dan alumni yang layak mendapatkan penghargaan dari kita semua – He deserves special appreciation from us.