Universitas Airlangga Official Website

Melihat Risk and Return pada Perusahaan Terbuka Selama Covid 19

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Ilustrasi by Doktorhukum

Pasar Modal adalah pasar yang terorganisir di mana entitas dapat memobilisasi dana, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kehadiran pasar modal meningkatkan pilihan sumber dana, terutama dana jangka panjang. Bagi perusahaan yang membutuhkan dana, pasar modal merupakan alternatif sumber pendanaan di luar bank untuk menyediakan dana murah. Sedangkan bagi yang memiliki dana, pasar modal dapat digunakan untuk menginvestasikan dananya pada aset keuangan. Kehadiran pasar modal akan meningkatkan pilihan investasi sehingga investor memiliki kesempatan untuk mengoptimalkan dana yang dimiliki.

Untuk mencegah penyebaran Covid 19, Indonesia memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Namun pembatasan ini menyebabkan terbatasnya mobilitas orang dan barang kebutuhan dalam negeri, serta kegiatan produksi dan investasi. Menurut data, pandemi Covid-19 menyebabkan kontraksi 5,32% pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2020 dibandingkan triwulan I-2020 sebesar 2,97%.

Kinerja perusahaan publik direpresentasikan dalam harga saham di bursa, yang mencerminkan kecocokan antara penawaran dan permintaan saham tersebut. Kenaikan harga saham menunjukkan bahwa investor menilai perusahaan dan sebaliknya. Setelah fenomena pemisahan kepemilikan perusahaan dari manajemen di perusahaan besar modern, teori keagenan muncul untuk menggantikan teori perusahaan klasik sebagai kerangka kerja untuk analisis perusahaan. Pemisahan “kepemilikan” dan “manajemen” telah memunculkan apa yang disebut masalah keagenan. Pemisahan ini memungkinkan terjadinya konflik kepentingan antara pemilik dan pengelola. Konflik diharapkan menjadi kekuatan kreatif sebagai mekanisme penyeimbang kekuatan. Dari sudut pandang pemilik bisnis, masalah keagenan menyangkut bagaimana memastikan bahwa manajer eksekutif selalu bertindak demi kepentingan pemegang saham.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji risiko, imbal hasil, kebijakan utang, dan biaya keagenan perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia selama masa pandemi covid 19. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengkaji indikator-indikator yang merupakan alat ukur terbaik untuk variabel kebijakan utang dan biaya keagenan. Serta menguji apakah variabel risiko dan pengembalian perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan utang dan biaya keagenan perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia selama masa pandemi covid 19. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji apakah variabel kebijakan utang dan biaya keagenan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan publik di BEI selama masa pandemi COVID-19.

Jenis penelitian adalah explanatory research. Sampel penelitian ini adalah 45 perusahaan yang termasuk dalam indeks LQ 45 yaitu kelompok perusahaan unggulan dan kelompok perusahaan dengan kapitalisasi terbesar. Jumlah data yang diamati sebanyak 180 dengan rincian dari 45 perusahaan yang menjadi objek penelitian selama triwulan I sampai dengan triwulan IV tahun 2020. Berdasarkan tujuan penelitian yang menerapkan analisis jalur satu arah, maka analisis data dilakukan Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah structural equation modeling partial least squares analysis (SEM-PLS). Variabel laten penelitian terdiri dari dua variabel eksogen dan tiga variabel endogen. Variabel laten eksogen adalah risiko dan pengembalian. Risiko diukur dengan variabel manifes risiko bisnis (RB) dan risiko keuangan (RK), sedangkan return diukur dengan margin laba kotor (GPM) dan margin laba operasi (OPM). Variabel laten endogen adalah kebijakan utang, biaya agensi, dan nilai perusahaan. Kebijakan utang diukur dengan variabel manifes total utang terhadap total aset (TDTA) dan total utang terhadap total ekuitas (TDTE). Biaya agensi diukur dengan total assets turnover (TATO) dan selling and general administrative (SGA). Nilai perusahaan diukur dengan rasio harga saham (HS), excess value (EV), dan tobins’q (TOB).

Akibat pandemi COVID-19, perusahaan-perusahaan yang berada di indeks LQ45 mengalami penurunan nilai pendapatan sehingga berdampak pada penurunan laba operasional. Akibatnya, risiko perusahaan, baik risiko bisnis maupun keuangan, semakin meningkat. Karena nilai penjualan perusahaan menurun, pengembalian perusahaan sangat kecil. Bahkan jika kemampuan perusahaan terbatas, hutangnya masih bisa dilunasi dengan aset dan uangnya. Karena pengeluaran operasional perusahaan lebih besar daripada uang yang diperoleh perusahaan, biaya yang dibayarkan untuk manajemen tidak banyak meningkatkan nilai aset perusahaan. Pada masa pandemi, risiko tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan utang perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sedangkan return berpengaruh signifikan terhadap kebijakan utang perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Risiko berpengaruh signifikan terhadap biaya keagenan pada perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sedangkan return tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya keagenan pada perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Penulis: Anis Eliyana

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.webology.org/abstract.php?id=2326

(Risk And Return, Debt Policy, Agency Cost, Firm Value During Covid 19: A Case Study On Public Companies)