Universitas Airlangga Official Website

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Terbitkan Kumpulan Cerpen Rona Merah

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Fajar Satryo, Penulis Kumpulan Cerpen Rona Merah, Dalam Peluncuran dan Diskusi Buku Rona Merah” di Pendopo Student Center (SC) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) pada Jumat, (13/5/2022). (Foto : Dokumentasi Teater Gapus)

 UNAIR NEWS – Fajar Satryo, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), menerbitkan karya Kumpulan Cerpen yang berjudul Rona Merah. Penerbitan tersebut merupakan bagian dari program Skriptorium Teater Gapus Surabaya yang kali kedua.

Komentar Editor

Bertajuk sesi diskusi sambang Skriptorium itu, editor dan layouter buku kumpulan cerpen Rona Merah Annisa Fitri mengungkapkan, cerpen-cerpen yang ditulis Fajar adalah cerita yang nyaman, rapi, dan baik untuk dibaca. Selain itu, gaya penulisannya dapat membuat pembaca ingin terus menyimak hingga akhir cerita. Ia juga memberikan evaluasi yang perlu diperbaiki Fajar sebagai penulis.

“Tentunya yang pertama adalah penyusunan klausa. Seperti yang sudah disinggung oleh kurator di sesi tadi, bahwasannya Fajar masih berbelit-belit dalam menyusun klausa majemuk.” ujarnya pada Jumat (13/5/2022).

“Sehingga ada kemungkinan pembaca untuk membaca ulang bagian tersebut dari paragraf awal,” tegasnya.

Perempuan yang akrab disapa Ica itu menambahkan, ada beberapa catatan untuk karya tersebut. Di antaranya berkaitan dengan gaya penulisan. Menurut Ica, Fajar menciptakan cerpen yang berada di titik antara cerita yang gelap dan terang. Transisi penceritaan tersebut yang perlu diperbaiki. Ia lalu mencontohkan salah satu cerpen Fajar yang membahas tentang seorang wanita cantik dan suka bertarung.

“Penceritaan penggambaran tokoh yang tiba-tiba berubah menceritakan masa lalu di mana tokoh tersebut sedang beradegan intim tentu sangat terasa transisinya. Jadi, pembaca butuh vibes dan jeda napas untuk membaca adegan-adegan seperti itu,” ungkapnya.

Rona Merah

Menurut Fajar, Rona Merah merupakan kumpulan cerpen (kumcer) yang berisi 6 cerpen dengan 1 problematika yang mana di dalam tokoh tersebut mempunyai hubungan satu sama lain yang terhubung dalam satu judul, yakni Rona Merah. Kumcer itu berlatar tahun 80-90an yang mana saat itu sedang terjadi persoalan kesetaraan gender yang minim di periode tersebut.

Berkaitan dengan isi cerpen, ia mengungkapkan bahwa isu-isu yang diangkat di dalam kumcer dikemas lebih politis dan dapat dikaitkan dengan permasalahan iklim dan juga konflik lahan. Misalnya, pertambangan.

“Hal inilah yang menjadi refleksi bagi saya, seperti isu lingkungan tadi. Saya juga pernah melihat tempat yang terkenal dengan konflik agraria (pertambangan, Red) ketika sedang mengikuti kegiatan mengajar dahulu. Kritik sosial inilah yang ingin saya angkat melalui tulisan,” ujarnya.

Mengenai proses kreatif, Fajar menjelaskan bahwa dirinya sedang mencoba bereksperimen di dunia kepenulisan, khususnya cerita pendek. Pengerjaan cerpen tersebut dimulai pada November ketika ia mendapati Kelas Penulisan Gapus. Dari pengalaman itu, Fajar mencoba untuk membuat cerita bersambung dan dikirimkan ke beberapa rekan.

Dari cerita bersambung tersebut, saya coba kumpulkan kembali ketika Teater Gapus sedang melakukan (penerbitan, Red) Skriptorium,” tegasnya.

Sebagai mahasiswa yang sedang menggeluti dunia kepenulisan, Fajar pernah mengalami kesulitan dalam melakukan proses kreatif. Untuk dapat mengatasi kemungkinan writer block, ia perlu mencari tempat sebagai refreshing pikiran.

“Ya kayak jalan-jalan, bercengkrama dengan kawan ataupun ngopi. Itulah yang saya lakukan untuk mengerjakan Rona Merah,” katanya.

Sebagai penutup, ia berpesan kepada pembaca yang ingin menulis karya agar terbuka terhadap kritik, saran dan masukan agar dapat membangun arah (gaya) penulisan ke depannya.

“Karena bidang (kepenulisan) ini kita tidak bisa menjadi penulis individual. Kita harus berani menerima saran, kritik bahkan masukan dari orang lain. Itulah yang palin penting,” ujarnya.

Kegiatan Diskusi bersama audiens dalam Peluncuran dan Diskusi Buku Rona Merah” karya Fajar Satryo di Pendopo Student Center (SC) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) pada Jumat, (13/5/2022). (Foto : Dokumentasi Teater Gapus) 

Penulis: Affan Fauzan

Editor: Feri Fenoria