Universitas Airlangga Official Website

Ramai Wabah PMK di Jatim, Prof Fedik: Segera Disinfeksi di Lingkungan Peternakan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp

UNAIR NEWS – Sejumlah hewan ternak di empat kabupaten di Jawa Timur terjangkiti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Mulai di Kabupaten Gresik, Lamongan, Mojokerto, hingga Sidoarjo. Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR)  Prof Dr drh Fedik Abdul Rantam menyebut penting segera melakukan disinfeksi di kawasan lingkungan peternakan.

Penyakit mulut dan kuku (PMK) merupakan penyakit yang menyerang hewan berkuku belah karena virus. Tingkat penularannya juga tergolong tinggi. Penyebarannya dapat melalui berbagai cara. Yaitu, udara, makanan, kotoran yang menempel pada alas kaki, pakaian, kontak langsung, peralatan kandang dan jarum suntik. 

“Disinfeksi dapat diberikan pada kandang. Ini menjadi upaya memutus dan mencegah penularan virus penyebab PMK secara lebih luas,” tegas Guru Besar bidang Virologi dan Imunologi UNAIR itu.

Jenis Disinfektan

Prof Fedik menerangkan, peternak dapat memilih beragam jenis disinfektan. Misalnya, Kalsium Karbonat 3 persen; KMNO4 3 persen; Formaldehyde 1 persen; Sodium hypochlorite 3 persen; Sodium hydroxid 2 persen; Sodium Karbonat 4 persen; Citric Acid 0,2 persen; atau Sodium Chlorite 1 persen.

“Tidak perlu menggunakan semua jenis disinfektan, namun salah satu saja,” ujarnya.

Prof Fedik menjelaskan, dari berbagai disinfektan yang ada, terdapat beberapa jenis bahan yang kemungkinan mengalami resistensi terhadap virus tersebut. Misalnya, Chlorine Dioxide dan Iodophores.

“Untuk disinfektan berbahan Chlorine Dioxide dan Iodophores masih memiliki kemungkinan untuk virus mengalami resistensi (kurang efektif, Red),” ungkapnya.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR)  Prof Dr drh Fedik Abdul Rantam. (Foto: Dok Pribadi)
Metode Disinfeksi

Disinfeksi dapat dilakukan secara efektif pada pagi dan sore. Dengan ketentuan bahan yang dapat dipertimbangkan. Selain itu, ada beberapa bagian tubuh sapi yang harus dibersihkan.  

“Untuk Alas dapat menggunakan kaporit, namun Karena efeknya oksidator biasanya untuk alas. Pada bagian dinding bisa menggunakan formaldehaide 1 persen dengan volume rendah. Sedangkan pada aliran air dapat menggunakan Chloride,” katanya.

“Penyemprotan dengan KMNO4 dapat dilakukan pada kaki sapi, sedangkan mulut sapi yang mengalami luka dapat dicuci menggunakan NaCl 1-2 persen”, imbuhnya.

Disinfektan Dapat Dibuat Mandiri

Prof Fedik menyampaikan bahwa disinfektan dapat dibuat sendiri oleh peternak. Terutama bagi peternak di daerah yang tidak mendapat disinfektan komersial.

“Peternak bisa membuat sendiri dengan cukup efektif. Dengan pendekatan virologi, salah satunya menggunakan kaporit dengan suspensi 10 persen, lalu diencerkan menjadi 2 persen supaya lebih mild (ringan)” terangnya.

Selain itu, penggunaan disinfeksi dosis rendah akan menarget virus secara langsung. “Kaporit tidak berefek buruk bagi hewan, namun kalo terlalu tinggi kadarnya menjadi oksidator sehingga alat (berbahan besi) menjadi berkarat,” tambahnya

Prof Fedik berpesan peternak untuk tidak panik. Sapi bisa sembuh dengan perawatan, disinfeksi kandang, dan pemberian vitamin juga perlu diberikan agar sapi cepat sembuh. 

Penulis: azhar burhanuddin

Editor: Feri Fenoria