Universitas Airlangga Official Website

Akun-akun Univcantik yang Problematik

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Sumber foto: https://lumen5.com/learn/instagram-live-stream/

Feminisme tengah ramai diperjuangkan dewasa ini. Isu-isu keperempuanan menjadi hal yang penting untuk dibahas dalam ekosistem sosial masyarakat Indonesia yang patriarkis. Akan tetapi, di saat kaum feminis gigih memperjuangkan isu-isu keperempuanan, muncul satu fenomena yang mencederai semangat feminisme dan emansipasi di Indonesia. 

Lebih parahnya lagi, fenomena ini ada di lingkungan kampus, tempat di mana kesetaraan harusnya dijunjung tinggi. Fenomena tersebut adalah eksistensi akun-akun univcantik di media sosial, khususnya instagram.

Akun-akun univcantik ini menjadi pembahasan yang kontroversial. Ia telah menjadi status quo di kalangan mahasiswa. Kebanyakan orang menganggap eksistensi akun-akun semacam ini sebagai sebuah kewajaran. Akan tetapi, sejatinya ia menyimpan bahaya yang besar.

Akun-akun semacam ini biasanya beroperasi dengan mengunggah foto-foto mahasiswi berikut informasi identitas mereka secara singkat. Dari sini saja sebenarnya kita sudah bisa meraba alasan mengapa keberadaan akun-akun ini bisa membawa bahaya.

Yang pertama, adalah masalah konsensus. Belum tentu semua mahasiswi yang fotonya diunggah di akun-akun ini memberikan konsensus penuh atas foto-foto mereka. Patut dipertanyakan juga apakah mereka bersedia untuk diunggah fotonya di akun-akun ini.

Konsensus menjadi hal yang penting, karena pengunggahan foto seseorang tanpa izin merupakan bentuk pelanggaran privasi. Persoalan konsensus juga menjadi penting karena pengunggahan foto di media sosial yang bisa dilihat publik luas pasti membawa konsekuensi tersendiri.

Tidak ada yang bisa menjamin perilaku pengguna media sosial. Tidak tertutup kemungkinan orang-orang yang fotonya diunggah akan mendapatkan gangguan berupa pesan atau komentar tidak menyenangkan dari pengunjung akun-akun ini.

Anonimitas yang ditawarkan oleh media sosial memberikan semacam perlindungan kepada orang-orang yang melakukan kekerasan berbasis gender online (KBGO). Terlebih karena identitas mahasiswi yang diunggah fotonya juga disertakan.

Masalah kedua adalah mengenai objektifikasi perempuan. Esensi mereka sebagai manusia dikerdilkan dengan hanya dilihat sebagai objek kecantikan atau ketampanan, bukan sebagai manusia merdeka yang memiliki dan menjunjung nilai-nilai. Bentuk dehumanisasi seperti ini sebenarnya merupakan sebuah ironi, karena mahasiswa selalu diajari untuk memanusiakan manusia.

Hal inilah yang diperjuangkan kaum feminis di Indonesia. Bagaimana cara memerdekakan perempuan dari stigma-stigma yang kerap diberikan masyarakat Indonesia yang masih patriarkis.

Di sisi lain, keberadaan akun-akun ini mencederai perjuangan dan semangat feminisme. Eksistensi akun-akun ini memperkuat premis bahwa perempuan adalah objek kecantikan semata. Hal ini seakan-akan menguatkan anggapan bahwa nilai perempuan hanya sebatas paras mereka.

Padahal posisi perempuan dalam masyarakat sebenarnya lebih dari itu. Dan sebagai masyarakat, kita juga sudah seharusnya melihat perempuan melampaui itu. Akun-akun univcantik ini menempatkan perempuan sebagai objek, dan ini tidak sejalan dengan semangat feminisme dan emansipasi.

Problem ketiga adalah mengenai posisi kita sebagai mahasiswa dalam melihat keberadaan akun-akun ini. Sangat disayangkan, kolom komentar akun-akun ini dipenuhi oleh puji-pujian, seakan memberikan justifikasi terhadap apa yang dilakukan akun-akun ini.

Selain bentuk objektifikasi, hal ini menjadi bukti bahwa kita belum sepenuhnya memahami peran kita sebagai agent of change. Sebagai mahasiswa, kita dituntut untuk membawa perubahan positif ke masyarakat. Dukungan terhadap akun-akun ini malah melanggengkan budaya objektifikasi perempuan, dan kontra-produktif terhadap tugas kita sebagai agen perubahan.

Sebagai kaum terpelajar, mahasiswa seharusnya memberi validasi terhadap hal-hal yang lebih positif daripada sekadar kecantikan wajah. Apresiasi mahasiswa akan jauh lebih berarti apabila ditujukan pada mahasiswa-mahasiswa berprestasi. Nilai kecantikan wajah seharusnya sudah menjadi faktor yang tidak lagi diperhitungkan.

Akan tetapi, realita berkata lain. Akun-akun univcantik tetap ada, mencederai semangat Raden Ajeng Kartini yang memperjuangkan kemerdekaan perempuan agar bisa dilihat sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar objek.Peringatan Hari Kartini hendaknya kita manfaatkan sebagai momentum perjuangan emansipasi dan sarana refleksi. 

Apakah perempuan sudah terpenuhi haknya? Masih adakah stigma negatif yang kerap kali disematkan kepada mereka? Apakah mereka sudah merdeka dari objektifikasi dan sepenuhnya dilihat sebagai manusia?

Jika pertanyaan-pertanyaan tadi masih dijawab dengan kata “belum”, maka harus ada perubahan yang kita lakukan dengan segera. Perempuan adalah tumpuan peradaban. Memenuhi hak-hak mereka berarti memastikan masa depan. 

Selamat Hari Kartini. Hidup perempuan yang berjuang.

Penulis: Ghulam Phasa Pambayung (Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Airlangga)