Universitas Airlangga Official Website

Webinar GenBi: Bisnis Wajib Memperhitungkan Sumber Daya Alam

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Anggita Pradipta (kanan bawah) Head of Marketing PT Surya Utama Nuansa (SUN) Energy dalam webinar kolaborasi GenBI & SRE UNAIR, Minggu (23/04/2022). (Foto: Dokumentasi Pribadi)

UNAIR NEWS – Dalam rangka perwujudan target bauran energi 23 persen pada tahun 2025, teknologi serta infrastruktur energi baru terbarukan (EBT) domestik belakangan ini menjadi semakin maju dan efisien. Tak dapat dipungkiri, EBT menyimpan sejumlah potensi besar pada pemasukan ekonomi dalam negeri. Hal ini dipaparkan oleh Anggita Pradipta selaku Head of Marketing PT Surya Utama Nuansa (SUN) Energy. SUN Energy sendiri perusahaan yang bergerak pada produksi dan pengembangan panel surya.

“Mungkin selama ini kita nggak sadar bahwa listrik kita asalnya dari bahan bakar fosil,” tutur Anggita. 

Tak Cuma Lebih Sehat, Tapi Juga Murah

Ilustrasi panel surya di atap rumah. (Foto: Ekonomi Bisnis)

Alumnus Universitas Indonesia (UI) tersebut menyorot pertumbuhan minat dan penggunaan EBT di Indonesia. Hal ini dilandasi berbagai faktor, misalnya adanya desakan komunitas internasional untuk melakukan transisi energi. Selain itu, pemerintah juga menyadari potensi sumber daya alam Indonesia yang besar untuk dimanfaatkan menjadi EBT.

Salah satu EBT yang kini gencar dimanfaatkan adalah energi matahari melalui pemasangan panel surya. Menurut Anggita, terdapat banyak keuntungan dari penggunaan energi matahari. Pertama, ketersediaan energi bersifat kontinu karena lokasi strategis Indonesia di wilayah khatulistiwa. Selain itu, fasilitasnya mudah dipasang di berbagai jenis bangunan. Ketiga, panel surya kini menjadi produk yang menarik bagi konsumen karena tren eco-friendly yang semakin meningkat.

Secara perhitungan ekonomi, member komite eksekutif Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) ini memaparkan bahwa panel surya menghemat tagihan listrik sebesar 30-60 persen. Bagi pelaku bisnis yang tagihan listriknya menyentuh angka miliaran, 10 persen penghematan sudah menjadi nilai bisnis tersendiri.

Rata-rata pengguna panel surya bisa balik modal dalam waktu enam sampai tujuh tahun. Kalau dibandingkan dengan masa hidup panel surya yang bisa mencapai tiga puluh tahun, hal ini jadi keuntungan untuk pengguna.

Instrumen Menuju Ekonomi Berkelanjutan

Anggita kemudian menerangkan bagaimana penggunaan sumber energi kotor tidak mempertimbangkan dampak lingkungan. Padahal ini eranya pembangunan berkelanjutan yang mengkolaborasikan tiga aspek sekaligus: lingkungan, ekonomi, dan sosial. Hal ini berarti beragam proses dalam bisnis tidak boleh hanya memperhitungkan profit semata. Namun, bisnis wajib memperhitungkan pengelolaan sumber daya alam hingga pemberdayaan komunitas dan sumber daya manusia. 

EBT secara tidak langsung juga berperan memperpanjang usia perekonomian manusia, tegas perempuan yang telah memenangkan berbagai penghargaan di bidang hubungan masyarakat ini. Ketika ekosistem rusak, tentunya faktor produksi yang dibutuhkan oleh pelaku bisnis juga menurun dengan signifikan. Selain itu, risiko bencana dari ancaman perubahan iklim ikut mengancam praktik bisnis di suatu wilayah.

Acara webinar ini diselenggarakan oleh kolaborasi organisasi mahasiswa independen GenBI Universitas Airlangga (UNAIR) dan Society of Renewable Energy (SRE) UNAIR. Turut merayakan Hari Bumi 2022, keduanya mengangkat topik ‘Renewable Energy for Sustainable Economy: Indonesia’s Option’. (*)

Penulis: Deanita Nurkhalisa

Editor: Binti Q. Masruroh