fbpx

Universitas Airlangga Official Website

Mengkritisi Film ala Dosen FIB Peraih Piala Citra

Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) Kukuh Yudha Karnanta mengisi acara Lakon Minggu bersama Jawa Pos pada Kamis (7/4/2021). (Foto: dok pribadi)

UNAIR NEWS – Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) Kukuh Yudha Karnanta mengisi acara Lakon Minggu bersama Jawa Pos pada Kamis (7/4/2021). Dalam live daring tersebut, Kukuh berbagi tentang seluk-beluk mengkritisi film Indonesia yang menyentuh rasa.

Kukuh sendiri merupakan Penerima Piala Citra untuk Kritik Film Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2021. Ia meraih penghargaan tersebut lewat kritiknya yang bertajuk Going Gaga Kejahanaman: Martabat dan Pandangan Dunia Perempuan Tanah Jahanam. 

Kukuh menyebut bahwa kritik film hadir untuk memaknakan film berdasar sudut pandang tertentu. Oleh karena itu, kritikus film bertugas menerangkan makna dan menyampaikan pesan yang film bawa kepada pembaca kritik. 

Fungsi Kritik

“Fungsi kritik film itu ditujukan untuk mengapresiasi, mempromosikan, dan punya fungsi literasi juga,” sebut Ahli Kajian Sinema tersebut.

Kritikus film bagi Kukuh dapat berfungsi untuk mengapresiasi hasil kerja serta mempromosikan film melalui konten atau ulasan yang dibuat. Fungsi berikutnya, Kukuh menekankan kritikus film harus mampu memaknai film secara teknis maupun sosio-kultural agar penonton dapat menangkap pesan film.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) Kukuh Yudha Karnanta mengisi acara Lakon Minggu bersama Jawa Pos pada Kamis (7/4/2021). (Dok pribadi)
Setiap Orang Adalah Kritikus

Untuk itu, Kukuh menyebut sebenarnya setiap orang bisa menjadi kritikus. Namun, dibutuhkan proses dan keterampilan dasar untuk menjadi kritikus film yang kredibel. Pertama, pengkritik harus memiliki pemahaman akan unsur-unsur film seperti sinematografi, naskah, camera angle, dan lain sebagainya.

“Kedua adalah kritikus harus punya wawasan dalam menafsirkan hal-hal yang ada dalam film. Pesan, isu, atau konteks apa yang berkaitan dengan masyarakat secara eksplisit maupun implisit,” terang Kukuh. 

Terakhir, pengkritik hendaknya juga memiliki keterampilan menyampaikan kritik yang ia sampaikan sesuai dengan media atau saluran kritik. “Kalau buat kritik dalam bentuk vlog maka harus tahu hal-hal seperti editing video. Kalau dalam bentuk artikel tentu harus tahu cara menulis yang menarik,” imbuhnya.

Kukuh sendiri berpesan agar masyarakat Indonesia meramaikan dan menghargai industri film dengan menonton film di platform resmi serta membaca kritik dari sumber yang kredibel. Acara itu sendiri merupakan agenda dari koran Jawa Pos yang disiarkan secara langsung via Instagram @jawapos. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria