Rektor: Guru Besar Terus Lahirkan Ilmu Pengetahuan Monday, 10 July 2017 01:20

profesor unair

Keempat profesor UNAIR yang baru dikukuhkan oleh Rektor. (Dari kiri) Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si., Prof. Dr. Bambang Soeprijanto, dr., Sp.Rad(K)A, Prof. Dr. Ririh Yudhastuti, drh., M.Sc., dan Prof. Dr. Emy Susanti, Dra., MA. (Foto: Bambang BES)

UNAIR NEWS – Rektor Universitas Airlangga mengukuhkan empat profesor baru di bidang sosial dan kesehatan. Keempat profesor UNAIR tersebut diharapkan terus menyumbangkan gagasan-gagasan ilmiahnya demi kemajuan bangsa.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Rektor UNAIR saat mengukuhkan keempat guru besar tersebut di Aula Garuda Mukti, Sabtu (7/8).

“Guru besar dihadapkan pada tuntutan pengembangan ilmu pengetahuan. Agar kita terus berkembang, maka para guru besar harus melahirkan riset-riset baru,” tutur Prof. Dr. Mochammad Nasih, S.E., M.T., Ak.

Setelah penelitian jadi rutinitas selain mengajar dan mengabdi kepada masyarakat, para profesor UNAIR diharapkan mempublikasikan penelitiannya tersebut di jurnal-jurnal bereputasi agar bisa direspon oleh masyarakat akademis.

Nasih mengatakan, bidang kajian yang ditekuni oleh para guru besar baru sudah sesuai dengan tuntutan zaman. Keempat guru besar tersebut memiliki latar keilmuan sosiologi gender, sosiologi ekonomi, kesehatan lingkungan, dan radiologi kedokteran.

“Tanggung jawab guru besar sudah sangat berat karena bersesuaian dengan lingkungan, persaingan hingga perubahan konsumsi. Tidak hanya perubahan fisik, tetapi juga iklim,” imbuh Nasih yang Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Keempat profesor UNAIR yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Emy Susanti, Dra., MA, Prof. Dr. Bambang Soeprijanto, dr., Sp.Rad(K)A, Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si., dan Prof. Dr. Ririh Yudhastuti, drh., M.Sc.

Guru Besar bidang Sosiologi Gender Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Prof. Emy merupakan guru besar UNAIR sejak berdiri ke-459 dan profesor FISIP aktif ke-17. Prof. Emy yang juga guru besar UNAIR sejak PTN-BH ke-167 menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Perempuan, Relasi Kuasa dan Sosiologi Gender” saat pengukuhan titel barunya.

“Mereka, perempuan masyarakat kelas menengah atas terkena penyakit the gender complex. Mereka nggak merasa kalau mereka tereksploitasi dan tersubdominasi. Bahkan, mereka, anak-anak muda itu, dengan bangga menunjukkan tubuhnya. Mereka tidak tahu bahwa mereka dieksploitasi untuk kepentingan profit atau kapitalis,” tutur Prof. Emy.

Prof. Bambang yang juga guru besar UNAIR sejak PTN-BH ke-168 menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Inovasi Radiologi di Era Molekuler dan Digital”. Dosen kelahiran Ponorogo juga menambahkan bahwa dalam perkembangannya, inovasi radiologi telah memasuki beberapa era serta memanfaatkan berbagai alat.

Pada era komputer, mesin sinar-X memanfaatkan dengan inovasi alat yang disebut CT-scan. Selanjutnya, ditemukan modalitas baru tanpa penggunaan sinar-X yaitu MRI. Alat MRI sendiri menurut Bambang, bekerja dengan cara memanipulasi proton dengan gelombang radio pada medan magnet yang kuat.

“Sumber radiasi lain dalam radiologi adalah isotop, suatu bahan yang memancarkan radiasi secara spontan. Dari alat yang sederhana, ada inovasi mesin  dengan teknologi komputer yang disebut SPECT dan PET. Peralatan ini pun digabung dengan CT dan MRI,” papar Guru Besar FK UNAIR ke-108 tersebut.

Guru Besar bidang Sosiologi Ekonomi FISIP Prof. Bagong merupakan guru besar UNAIR sejak berdiri ke-461 dan profesor FISIP aktif ke-18. Prof. Bagong yang juga guru besar UNAIR sejak PTN-BH ke-169 menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Sosiologi Ekonomi: Dinamika Kapitalisme dan Gaya Hidup Masyarakat Konsumer di Era Posmodern”.

Bagong menawarkan pendekatan baru berupa Sosiologi Ekonomi. Laki-laki yang aktif menulis di media massa ini mengatakan, eksploitasi konsumen menjadi berbahaya ketika konsumen menjadi konsumen yang boros.

Bagong menawarkan solusi untuk meminimalisir kebiasaan masyarakat konsumtif. Yakni, mendidik konsumen agar kritis mengonsumsi produk.

“Keinginan bisa puluhan. Butuh kecerdasaan dan silap kritis konsumen, bahwa yang dia hadapi ini kapitalis yang selalu mengeruk keuntungan, bukan hanya upah buruh, tapi eksploiutasi konsumen. Kini konsumen harus makin kritis,” ungkapnya.

Terakhir, Guru Besar bidang Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat merupakan guru besar UNAIR sejak berdiri ke-462 dan profesor FKM aktif ke-11. Prof. Ririh yang juga guru besar UNAIR sejak PTN-BH ke-170 menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Meramal Wabah Demam Berdarah Dengue”.

Di Surabaya, setiap tahunnya kasus DBD selalu terjadi di sejumlah kawasan di Surabaya seperti Sawahan dan Tambaksari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa program doktor Fakultas Kesehatan Masyarakat, virus dengue juga sudah menjangkiti kawasan-kawasan di Makassar seperti Toraja.

“Bahkan, di tempat penampungan air, telur nyamuk itu sudah mengandung virus dengue,” tutur Prof. Ririh.

Sumber : http://news.unair.ac.id/2017/07/08/rektor-guru-besar-terus-lahirkan-ilmu-pengetahuan/