Si “Anak Nakal” yang Jadi Wisudawan Terbaik

Rektorat, 14-08-2010

Osmond Hardy Mulyono

Sebuah penelitian skripsi yang terinpsirasi dari pengalaman pribadi tentu memberi kenangan indah dan membawa nilai lebih bagi peneliti. Hal itu pulalah yang dirasakan oleh Osmond Hardy Mulyono, wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga. Berdasar perjalanan spiritualnya, Osmond membuat sebuah penelitian unik yang jarang dilirik orang untuk skripsinya, yaitu mengenai perdamaian dan komunitas Falun Gong.

Awalnya, mahasiswa jurusan sosiologi ini berencana membuat sebuah penelitian tentang keberagamaan di Gereja Bethani. Namun, ketika hendak mengisi berkas pengajuan skripsi, dia seperti mendapat “pencerahan” untuk membahas mengenai komunitas Falun Gong yang ditindas oleh Pemerintah Cina. Jadilah Osmond membuat penelitian skripsi yang berjudul “Konstruksi Perdamaian Komunitas Falun Gong”.

Falun Gong merupakan sebuah komunitas spiritual yang mengolah jiwa dan raga melalui kultivasi diri atau perenungan diri untuk mencapai kedamaian. Pertama kali berdiri pada tahun 1992 di Cina, Falun Gong bukanlah sebuah agama, melainkan sebuah gerakan spiritual. Pada awalnya, Falun Gong mendapat respon yang sangat baik dari masyarakat Cina, bahkan komunitasnya terus membesar.

Menurut data Pemerintah Cina, waktu itu ada hingga 70 juta praktisi Falun Gong. Namun, melihat besarnya praktisi Falun Gong, Pemerintah Komunis Cina khawatir bila suatu saat Falun Gong ditunggangi oleh pihak oposisi atau lawan politik dari luar Cina. Kemudian Falun Gong mulai dilarang di Cina dan para praktisinya kemudian ditangkap dan ditekan oleh Pemerintah Komunis Cina. Meski demikian, beberapa praktisi Falun Gong berhasil keluar dari Cina dan menyebarkan ajaran Falun Gong ke luar Cina. Saat ini, Falun Gong sudah menyebar ke seluruh dunia,
terutama di negara-negara barat.

Osmond mengambil penelitian mengenai Falun Gong ini bukan hanya karena kebetulan dia dan keluarganya adalah praktisi Falun Gong. Osmond ingin menampilkn seperti apa sebenarnya komunitas Falun Gong itu pada masyarakat. Osmond bercerita, dia dan keluarganya mendapatkan manfaat dari komunitas falun Gong.

Awalnya, ketika masih duduk di bangku SD, Osmond dikenal sebagai anak yang bermasalah, nakal, suka berkelahi, dan rapornya selalu merah. Predikat itu tetap melekat pada Osmond hingga SMA. Suatu hari, ayah Osmond mengenalkannya pada komunitas Falun Gong di Surabaya. Dari situ, Osmond mulai membaca buku-buku yang dipinjamkan ayahnya, berlatih mempraktekkan Falun Gong, dan mengikuti seminar-seminarnya. Ketika Osmond hadir di sebuah seminar Falun Gong, dia merasa tercerahkan, dan menyadari bahwa dia masih harus banyak belajar akan kehidupan.

“Di seminar itu, saya menangis dan sadar bahwa saya masih harus banyak belajar. Sejak saat itu, saya bertekad untuk mulai berubah,” cerita Osmond.
Peristiwa itu membawa dampak besar bagi Osmond. Osmond mengaku, mulai kelas 2 SMA hingga lulus kuliah, dia tidak pernah lagi mencontek, berkelahi, atau berbuat masalah. Memberi contekan pun tidak pernah lagi dilakukan Osmond. Nilai-nilanya mulai membaik, bahkan ketika masuk semester kedua kelas dua SMA, Osmond menjadi juara kelas. Di bangku kuliah pun, dia sempat mendapat IP 4,00 sebanyak dua kali, dan sekarang dia mampu meraih predikat wisudawan terbaik.

Melalui skripsinya, Osmond ingin berbagi pada masyarakat bahwa semua konflik yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini disebabkan karena hati manusia yang tidak pernah dalam keadaan damai dan adanya naluri yang selalu dikonstruksikan pada permusuhan dalam diri manusia modern. Menurut Osmond, sejak kecil kita dididik untuk menjadi manusia berkonflik. Dalam skripsinya, Osmond menulis bahwa obat paling manjur untuk menghapus konflik adalah dengan mengkonstruksikan naluri perdamaian di hati masing-masing. “Lakukan segala sesuatu dengan tulus dan ikhlas, karena kita akan menuai apa yang kita tabur. Be the best by doing better,” pesan Osmond.

Setelah lulus, Osmond mengatakan ingin lanjut ke jenjang S2 karena ingin menjadi dosen, dengan fokus pada masalah konflik dan perdamaian. Dia berencana meneruskan studi di Belanda, mengambil jurusan Peace and Conflict Studies di International Institute of Social Science, Belanda. Osmond memilih Belanda sebagi tujuan karena percaya Eropa merupakan pusat studi sosiologi, terbukti banyak founding father sosiologi yang berasal dari Eropa.

warta.unair.ac.id

by. humas_ua


Jejakku Turut Promosikan Wisata Indonesia

Rektorat, 22-12-2015

Ahimsa Afrizal

Geliat dunia pariwisata Indonesia kian tampak. Hal ini bisa kita

Semangat Berprestasi Meski Tak Lagi Muda

Rektorat, 22-12-2015

Wiwiek Dianawati

Bagi Dr. Wiwiek Dianawati, M.Si., Ak., CMA., ia tidak menduga

Disiplin Kiat Sukses Raih IPK Sempurna

Rektorat, 10-12-2015

Elfian Zulkarnain

Sebagai seorang dosen yang mendapat tugas belajar dengan dukungan beasiswa

Terkesan Saat Ikut Main Ludruk

Rektorat, 10-12-2015

I Gusti Ngurah Widya Hadi Saputra

Berangkat dari kegelisahannya tentang kondisi jumlah lapangan kerja yang tidak

Pencapaian Tersendiri

Rektorat, 10-12-2015

Leny Juniarta

Bagi Leny Juniarta, seorang dokter gigi yang bertugas di Puskesmas

Aktif Organisasi Tuai Prestasi

Rektorat, 10-12-2015

Surono Dwi Saputra

Sebagai penerima beasiswa Bidikmisi, Surono Dwi Saputra mengaku sangat mensyukuri

Meneliti Kadar Racun pada Ikan

Rektorat, 10-12-2015

Fitroh Dwi Apriliawan Hariyoto

Fitroh Dwi Apriliawan Hariyoto, menjadi wisudawan terbaik program S2 Fakultas

Jadi yang Terbaik Setelah Berkali-kali Gagal

Rektorat, 10-12-2015

Fauzia Azzahra

Beberapa obat seperti peptida dan protein tidak dapat diberikan secara

Hadiah Terbaik untuk Orang Tua

Rektorat, 10-12-2015

Anita Pratiwi

Dalam pengambilan keputusan terkait penentuan jumlah tenaga kerja, penggunaan mesin,

Meneliti Sistem Surveilans Pes di Pasuruan

Rektorat, 08-12-2015

Siti Malikhatin

Wisudawan terbaik jenjang S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat ini tak kalah

1 2 3 4 ... 130 Next >>