News Maker

Untuk Guru yang Mengajar Kami Bersuara Emas

04-04-2011 | humas_ua

.

Matanya berkaca-kaca sepanjang malam. Keharuan terus menyelimuti raut wajah pria berusia 72 tahun itu, seiring disuarakannya empat buah karyanya oleh anak-anak yang ia didik dulu. Pantas jika ia kemudian merasa tersanjung. Kidung merdu sekaligus reuni penuh keakraban malam itu, memang dipersembahkan sebagai kado indah di ulang tahunnya yang jatuh pada 31 Maret lalu.

Soepardi Kartohardjo, dr., SpPA boleh saja sudah lupa syair lagu-lagu yang pernah ia ciptakan. Namun tidak demikian dengan para alumnus yang pernah merasakan tangan dinginnya, dalam membesarkan Paduan Suara Mahasiswa Universitas Airlangga (PSM Unair). ”Jiwa paduan suara mahasiswa Unair tidak bisa dilepaskan dari citra dan sosok dr. Soepardi sebagai pembimbing, sahabat, sekaligus teladan yang telah membawa PSM Unair menuju masa-masa keemasan, untuk itu kami berkumpul bersama alumni PSM Unair dari masa ke masa untuk mempersembahkan konser indah ini,” ujar Nanang Harijanto Disman, Ketua Panitia acara bertajuk ”Reuni Akbar dan Konser Alumni Paduan Suara Universitas Airlangga: a Tribute to dr. Soepardi”, Sabtu (02/04), di Hotel Mercure Surabaya.

Sejak menerima amanah sebagai pelatih PSM Unair di tahun 1963, dedikasi dr. Soepardi terhadap nama besar PSM Unair memang cukup tinggi. Keuletan alumnus Fakultas Kedokteran Unair ini melatih PSM Unair, mengantar mereka meraih berbagai macam prestasi, hingga pada tahun 1981, gema suara Unair resmi berkumandang sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Paduan Suara Universitas Airlangga.

Selain aktif melatih, dari tangan bapak empat orang putera ini juga terlahir berbagai karya lagu, diantaranya ”Mars Airlangga”, ”Lagu Kenangan”, ”Alumni Universitas Airlangga Bersatulah”, ”Putera Airlangga Bangkit”, ”Selamatlah Sarjanaku”, dan ”Lagu Wisuda”. Lagu-lagu tersebut selanjutnya menjadi ”lagu kebesaran” Unair di tiap upacara besarnya, seperti saat penerimaan mahasiswa baru, wisuda, dan dies natalis. 

”Apa makna dalam lagu saya, semata-mata adalah apa yang saya ketahui dan saya harapkan dari Unair,” terang dr.Soepardi menjelaskan seputar inspirasi dari lagu-lagu yang diciptakannya.

Selain lagu-lagu tentang Unair, dr. Soepardi menyatakan juga sempat membuat lagu untuk salah satu universitas terbuka di Surabaya dan Universitas DR. Soetomo (Unitomo).

Acara malam itu dimeriahkan oleh sekitar 200 alumnus PSM Unair dari tahun 1970 hingga sekarang. Para alumnus ini datang dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan ada yang jauh-jauh datang dari Berlin, Jerman, yakni Taufan Irianto. Alumnus PSM Unair angkatan masuk 1981 ini kini menjadi pengusaha restoran masakan Indonesia yang cukup sukses di Jerman, dan sesekali membawakan tarian khas Sumatera dalam acara-acara Kedutaan Besar Indonesia di Jerman. Taufan diketahui juga punya andil besar dalam perkembangan koreografi tim PSM Unair kala itu.

Dalam penampilannya, para alumnus dibagi kedalam dua dekade, yakni dekade 1970-1980an yang menyebut dirinya generasi Dinosaurus, dan dekade 1990-2000an yang tidak mau kalah dengan menyebut dirinya sebagai generasi Barney and Friends. Empat buah lagu ciptaan dr. Soepardi dibawakan secara baik oleh PSM Unair dari dua dekade, sebagai pembuka konser persembahan. 

Disusul delapan buah lagu yang pernah dibawakan PSM Unair di masing-masing dekade, dan mengantar mereka meraih masa-masa keemasan, seperti lagu ”Kupinta Lagi” sebagai lagu pilihan wajib dalam lomba paduan suara mahasiswa nasional, memperebutkan Piala Menteri Olah Raga dan Pemuda 1989 dan meraih juara I, ”Ilir-ilir” sebagai lagu pilihan dalam PORSENI Jawa Timur 1984 dan meraih juara I, ”Bohemian Rhapsody” sebagai lagu pilihan lomba paduan suara umum dan perguruan tinggi, oleh Universitas Trisakti dan meraih juara I, ”Ain’t Misbehavin” sebagai lagu popular yang diaransemen jazz dalam final kompetisi di Universitas Parahyangan tahun 2005, dengan hasil juara 3, dsb.

Kamis, 17-Apr-2014              


Agenda

    Profil Elvira Devinamira Wirayanti

    • KANTOR MANAJEMEN  – WARTA UNAIR

      Malam Grand Final Pemilihan Puteri Indonesia 2014 di Plenary Hall Jakarta Convention Center agaknya merupakan malam saat mimpi Elvira Devinamira Wirayanti menjadi nyata. Bagaimana tidak? Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Airla