Guru Besar

  



"Mengelola SDM Perlu Sikap Tut Wuri Handayani..."

Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr., MS.

Guru Besar Patologi Anatomi
Tanggal Pengukuhan : --
Fakultas : Kedokteran
Pidato : Patobiologi Di Era Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Kedokteran Masa Depan

FK, Kampus A, Unair. Right or wrong is my country..., itulah sepenggal kesan Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr, MS., tentang kisah diri terhadap almamaternya. Bagi ayah dua putra ini, Unair yang merupakan almamater telah banyak memberi kesempatan. "Unair telah menjadikan saya, mulai dari seorang dokter sampai akhirnya dipercaya jabatan akademik Guru Besar. Di Unair juga saya berhasil mendirikan 2 perhimpunan keilmuan nasional," terang Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr, MS.

Perhimpunan yang dimaksud adalah Perhimpunan Patobiologi Indonesia, yang didirikan pada 15 Juni 2000. Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr, MS, mengaku telah merintisnya sejak tahun 1984. Berikutnya, yang kedua, pada tanggal 29 Juli 1998, Guru Besar yang mendalami Patobiologi ini mulai mendirikan Kelompok Studi Psikoneuroimunologi di Fakultas Kedokteran Unair. Dengan kerja keras, yang dibarengi ketelatenan dan keikhlasan, akhirnya pada tanggal 4 Agustus 2004, berhasil mendirikan Perhimpunan Psikoneuroimunologi Indonesia. Pendirian suatu perhimpunan keilmuan memerlukan kerja keras, keuletan dan ketekunan serta kesabaran dalam mensosialisasikannya. Kesiapan menghadapi berbagai kendala, termasuk perbedaan konsep dalam memahami keilmuan tersebut, merupakan tantangan yang secara terus menerus harus dilalui. Sosialisasi dilakukan melalui berbagai seminar, kursus, simposium. Dan yang terpenting, Guru Besar ini telah berhasil menjadikan ilmu tersebut sebagai salah satu matakuliah dalam pendidikan di Unair, seperti halnya di PSIK-FK Unair, Program Master dan Doktor.

Saat ini telah banyak manfaat yang didapat atas perkembangan kedua ilmu tersebut. Menurut pria berbintang gemini ini, pendirian perhimpunan keilmuan tersebut didasari oleh berbagai hasil penelitian tesis dan disertasi. Selain itu warga Unair khususnya baik ilmuwan maupun klinisi dari berbagai sentra lain di Indonesia dapat membina wawasan keilmuannya. Dalam perkembangan ilmu yang relatif masih baru tersebut, maka perbedaan pendapat adalah hal yang wajar, dan justru hal ini akan semakin mendorong perkembangan ilmu itu sendiri. Meski demikian, Profesor Taat mengakui, bahwa masih banyak pihak yang menganggap perbedaan ini dianggap sebagai oposan. "Beda pendapat adalah wujud kepemilikan kita atas Unair. Siapapun pimpinan Unair, harus mampu mendengar dan menjadikan keragaman ini sebagai perekat atas semua komponen Unair. Alangkah ganjilnya bila seluruh komponen tubuh kita mempunyai fungsi yang sama dan apa jadinya ?" terang Profesor Taat Putra.

Harapan ke depan, dengan semakin marak perkembangan keilmuan di Unair, maka pendekatan yang dilakukan terhadap masalah akan semakin menyeluruh. Khusus di bidang kedokteran, dijelaskan bahwa dampak perkembangan suatu ilmu dasar bidang kedokteran adalah akan semakin meningkatkan layanan kesehatan. "Imbasnya, maka quality of life akan semakin meningkat," ujar Ketua Medical Research Unit FK Unair ini. Ditambahkan pula, bahwa Unair harus mampu mengembangkan berbagai ilmu baru yang lain. Unair dengan Pascasarjana dan Lembaga Penelitiannya, bisa menjadi kiblat perkembangan ilmu bagi sentra lain. Suatu institusi pendidikan yang baik, adalah yang mampu menghasilkan lulusan yang kreatif dan inovatif untuk mengemas keragaman menjadi suatu yang harmoni.

Dalam hal pendidikan, sebenarnya Unair masih dapat dikatakan bagus. "Jumlah kelulusan dan masa studi, menunjukkan Unair bagus," ungkap peraih Satyalencana Karya Satya yang satu ini. Sehubungan dengan hal tersebut, ada gagasan menarik yang dilontarkan Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr, MS. Menurut beliau, penyaringan masuk Unair harusnya disesuaikan standar yang ada, tidak perlu terlalu diperketat. Yang seharusnya diperketat adalah prosesnya. Unair harus mampu membuka diri dan kesempatan seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin belajar. Dari situ, Unair diuji, apakah mampu menjadi “mesin pemroses SDM” yang andal. Bagaimana Unair mampu menggodok mereka yang berkualitas 'biasa' sehingga menjadi yang 'luar biasa'. "Berdasar pengalaman, banyak bimbingan saya yang terkesan biasa saja, namun setelah dibimbing dengan benar, ia menjadi sangat kreatif dan berkualitas," tutur Prof. Taat Putra. Bila Unair terlalu ketat menyaring calon, dikhawatirkan yang tidak tersaring akan ditangkap oleh institusi yang belum terlalu siap memproses SDM. Dan akhirnya lulusannya menjadi SDM yang kurang berkualitas. Dalam skala nasional, negara ini akan dipenuhi oleh SDM yang demikian. Nah sayang kan ?!. Idealnya, itu tidak terjadi bila Unair memiliki sistem pendidikan yang andal. Dengan demikian akan mampu memproses SDM biasa menjadi hebat. "Nah, untuk itu kita jangan saling menyalahkan, yang penting kita harus tengok diri kita sendiri," ujar lulusan terbaik Magister angkatan III Pascasarjana Unair ini.

Sudah layakkah diri kita menjadi tenaga pengajar dan bahkan pendidik yang andal? Harusnya kita giat selalu meng-upgrade diri kita agar menjadi komponen dalam proses pendidikan yang berkualitas. Tugas Unair secara proaktif mengajak dan menyadarkan SDM yang biasa, agar mereka bangkit dari keterpurukan untuk menyosong masa depan yang lebih baik. Secara umum orang Indonesia tidak bodoh, seandainya “mesin memproses SDM“ dalam sistem pendidikan kita andal. Banyak SDM Indonesia yang menjadi ilmuwan atau klinisi besar ketika diberi kesempatan untuk menikmati sistem pendidikan di manca negara yang sudah mapan.

Menanggapi kondisi Unair dewasa ini, banyak hal yang masih perlu dibenahi. Menurut Prof. Taat, selain infrastruktur, maka perilaku SDM merupakan hal yang perlu mendapatkan perhatian sangat serius. "Kita harus mengedepankan nilai efisiensi dan efektivitas dalam bekerja, sebab waktu kita tidak mungkin ditambah, tetap 24 jam, pemanfaatan dunia maya sebagai peluang untuk mengefektifkan waktu harus dimanfaatkan", terang Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Patobiologi Indonesia (PPI) ini. Jika tidak demikian, maka penerapan nilai tersebut sulit dilaksanakan. Saat ini Prof Taat Putra telah mengembangkan model pembelajaran dan diskusi psikoneuroimunologi nasional dengan menggunakan email. Pemanfaatan dunia maya ini telah banyak meng-up grade dirinya menjadi lebih cepat mengikuti perkembangan ilmu di tingkat global. Guru Besar ini mencoba melakukan pengendalian organisasi lewat dunia maya,namun masih banyak kendala. Antara lain budaya ber email ria masih belum seluruhnya terbentuk. Sebenarnya fasilitas yang disediakan oleh provider dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidik dan manajemen. "Namun masih terbentur perilaku SDM yang belum ke sana," ungkapnya.

Guru Besar ini secara rutin menyediakan diri minimun dua-empat jam per hari, memanfaatkan dunia maya untuk melaksanakan tugasnya. Mulai dari diskusi keilmuan dengan berbagai ahli di tingkat nasional dan internasional, perkuliahan, pembimbingan, serta ketika mengelola berbagai kepanitian yang yang dipercayakan pada dirinya. "Membangun komunikasi dengan teman seminat di luar negeri jauh lebih cepat dibanding dengan teman seminat di dalam negeri", demikian ungkapnya. Kita lihat perkembangan berbagai negara maju, yang berkembang oleh picuan daya inovasi dan kreativitas SDM nya. Untuk itu, kita tidak mungkin menghentikan pengabdian SDM Unair hanya untuk meningkatkan kinerja Unair. Pembenahan yang perlu dilakukan adalah sisi rekrutment. "Harus berkualitas dan rasional," ujar Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr, MS. Sedangkan pegawai yang sudah ada, terus dilakukan pembinaan semaksimal mungkin. Yang terbaik adalah jangan pernah menyalahkan orang lain, dan memulailah perubahan dari diri sendiri, mulai dari perubahan yang kecil dan lakukan sesegera mungkin.

Berikutnya, Unair harus mencermati, membuat sistem yang kondusif, serta menerapkan sistem reward and punishment. "Bukankah perilaku SDM akan terbentuk jika sistem reward and punishment berjalan," imbuh Prof. Taat, yang mendasar pada pendapat ahli perilaku Watson dan Skinner. Menanggapi tentang Unair BHMN, Prof. Taat, melihat masih memerlukan banyak kesiapan berbagai hal, khususnya perilaku SDM. Namun dengan asumsi bila kondisi negara seperti saat ini, maka Unair-BHMN suatu pilihan yang tak terhindarkan.

Saat ini kita masih berperilaku seperti anak manja, menerima dan menggunakan, tetapi belum mampu menggali sumber sendiri secara optimal. Untuk itu Prof. Taat, menyarankan beberapa hal berkenaan dengan Unair BHMN. Pertama kali, Unair harus gencar melakukan sosialisasi terhadap berbagai azas dasar BHMN dan pembinaan SDM untuk mengubah perilaku dari anak manja menjadi SDM yang kreatif-inovatif-mandiri yang mampu memberdayakan diri dan lingkungannya untuk tetap eksis dan berkembang. Pembinaan ini tidak mudah dan perlu waktu lama serta berlangsung terus menerus, hingga jadi kreatif dan mandiri. "Kita harus telaten dan sabar," jelas Prof. Taat. Kemudian kedua, Unair harus menyiapkan iklim yang kondusif bagi perilaku SDM yang demikian. "Mengelola SDM yang kreatif-inovatif-mandiri tidak mudah, perlu sikap tut wuri handayani," ungkapnya. Iklim ini harus mampu menciptakan rasa kerasan bekerja bagi semua SDMnya.

Lain daripada itu, menurut Prof. Taat, merasa perlu ada jalinan kuat antara Unair dan Alumninya. Banyak alumni Unair yang berhasil, namun belum merasa didukung Unair "Akhirnya link kita jadi terputus," ujar pria kelahiran Bojonegoro ini. Menurut beliau, harusnya kita juga turut berbahagia mengikuti keberhasilan orang lain. "Janganlah merasa besar, karena mengecilkan orang lain" tutur Prof. Taat Putra. Intinya, Unair harus proaktif. Melayani alumni, hingga mereka merasa punya ikatan dengan Unair. Sebagaimana layaknya orang tua dengan anak, harus terjalin komunikasi demi hubungan baik antara keduanya. Di penghujung paparan, Prof. Dr. Suhartono Taat Putra, dr, MS, tetap optimis bahwa Unair akan mampu menjadi yang terbaik di negeri ini manakala pimpinan Unair menyadari karakter yang dipimpin dan yang dipimpin menyadari bahwa Unair maju karena dirinya berkeinginan untuk maju.(ho*k)

Senin, 21-Apr-2014              


Agenda

    Profil Elvira Devinamira Wirayanti

    • KANTOR MANAJEMEN  – WARTA UNAIR

      Malam Grand Final Pemilihan Puteri Indonesia 2014 di Plenary Hall Jakarta Convention Center agaknya merupakan malam saat mimpi Elvira Devinamira Wirayanti menjadi nyata. Bagaimana tidak? Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Airla