Prof. Dr. Tri Martiana, dr., MS

Rektorat, 27-10-2014

Guru Besar Ilmu Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat

Revitalisasi K-3 Melalui Paradigma Sehat (Sebagai Optimalisasi Pencegahan Kecelakaan dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja)

Paradigma Sehat untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Setiap pekerjaan di dunia ini hampir pasti tak ada yang tak berisiko. Ibarat pepatah bermain air basah, bermain api hangus. Kecelakaan dan sakit akibat kerja sudah menjadi risiko setiap orang yang melakukan pekerjaan, baik itu petani, nelayan, buruh pabrik, pekerja tambang, maupun pegawai kantoran sekalipun.

Sepanjang tahun 2009, pemerintah mencatat telah terjadi sebanyak 54.398 kasus kecelakaan kerja di Indonesia. Meski menunjukkan tren menurun, namun angka tersebut masih tergolong tinggi. Kecelakaan kerja di sebuah pabrik gula di Jawa Tengah menyebabkan empat pekerjanya tewas dan di Tuban Jawa Timur seorang meninggal dan dua orang lainnya terluka akibat tersiram serbuk panas saat bekerja di salah satu pabrik semen adalah beberapa contoh kasus kecelakaan kerja yang mengakibatkan kerugian bahkan sampai menghilangkan nyawa.

Kerugian akibat kecelakaan kerja tidak hanya dirasakan oleh tenaga kerja itu sendiri, namun juga bisa berdampak pada masyarakat sekitar. Oleh karena itu perlu adanya penerapan sebuah sistem manajemen keselamatan dan kesehatan Kerja (SMK3) di tempat kerja berbasis paradigma sehat.

Hal itu menjadi kebutuhan yang mendesak mengingat jumlah tenaga kerja di Indonesia pada tahun 2009 sebesar 104,49 juta, bekerja di sektor formal sebesar 30,51 % sedangkan 69,49 % bekerja di sektor informal, dengan distribusi sebesar 41,18% bekerja di bidang pertanian, industri 12,07%; perdagangan sebesar 20,90%; transportasi, pergudangan dan komunikasi sebesar 5,69%; konstruksi sebesar 4,42%, jasa dan keuangan 14,44%; serta pertambangan, listrik dan gas 1,3% (Berita Resmi Statistik 2009). Dari data tahun 2007 diketahui kecelakaan kerja terbanyak terjadi pada tenaga kerja konstruksi dan industri masing-masing 31,9 % dan 31,6 %.

Prof. DR. Tri Martiana, dr., MS., Guru Besar Universitas Airlangga bidang Ilmu Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang dikukuhkan Sabtu (30/1) di Gedung Rektorat Unair, mengatakan bahwa paradigma sehat di masyarakat sekarang sudah mulai luntur. Paradigma sehat yang lebih menekankan pada cara pandang preventif (pencegahan) dan promotif dalam melihat masalah kesehatan masih kurang mendapat perhatian di bidang keselamatan dan kesehatan kerja.

Menurut Prof. Tri, saat ini sebagian besar perusahaan lebih memilih mengeluarkan biaya untuk pengobatan dan perawatan bagi tenaga kerja yang sakit (upaya kuratif) daripada mengupayakan adanya sistem managemen K-3 yang baik dalam perusahaan untuk upaya pencegahan kecelakaan dan kesakitan akibat pekerjaan. Dengan dalih biaya yang dikeluarkan untuk upaya preventif-promotif lebih besar. Padahal, apabila tenaga kerja jatuh sakit, justru akan lebih banyak kerugian yang akan ditanggung oleh perusahaan.

Selain kerugian dana untuk biaya perawatan dan pengobatan, perusahaan juga akan kehilangan produktifitas kerjanya. Dan bagi pemerintah hal ini menjadi beban, karena semakin banyak tenaga kerja yang sakit atau cacat akibat kerja akan mengurangi kualitas dan kuantitas sumber daya manusia pembangunan untuk kemajuan bangsa.

Faktor dasar penyebab adanya kecelakaan kerja adalah buruknya managemen K-3, tidak adanya komitmen perusahaan untuk menerapkan SMK3 serta faktor lingkungan kerja. Ketiga hal tersebut menimbulkan unsafe action (tindakan yang tidak aman) dan unsafe condition (kondisi yang tidak aman) yang merupakan faktor tidak langsung penyebab kecelakaan kerja. Sedangkan faktor penyebab langsung timbulnya kecelakaan kerja adalah tidak adanya upaya pengendalian risiko dan adanya potensial bahaya di tempat kerja. 80% kecelakaan diakibatkan oleh unsafe action, seperti perilaku tidak memakai helm para pekerja konstruksi serta kebiasaan tidak memakai masker dan sarung tangan selama bekerja oleh pekerja yang berhubungan dengan bahan kimia. Untuk mencegah timbulnya unsafe action adalah dengan upaya preventif-promotif, yakni membekali tenaga kerja tentang pengetahuan K-3 dan didukung dengan adanya budaya K-3 di tempat kerja.

Paradigma sehat sebagai optimalisasi dalam pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat hubungan kerja dilakukan dengan menunjuk pendampingan ahli K-3 bagi semua industri. Masalah yang masih dihadapi saat ini adalah kurangnya sumber daya manusia yakni tenaga ahli K-3 sebagai pembina pelaksanaan SMK3 di perusahaan, diakibatkan masih rendahnya angka lulusan perguruan tinggi atau akademi bidang K-3.

“Diperlukan peningkatan kerja sama semua sektor dan organisasi profesi untuk memberi masukan kepada pemerintah dalam bentuk upaya terobosan di bidang K-3,” jelas wanita kelahiran Surabaya ini.

Terobosan itu misalnya memberikan rekomendasi kepada pemerintah terkait masalah Nilai Ambang Batas (NAB) yang digunakan untuk menentukan potensi bahaya sebuah paparan bahan fisik, biologi maupun kimia di tempat kerja. Selama ini NAB masih mengadopsi dari standar National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) yang sebetulnya kurang sesuai jika diterapkan di Indonesia, karena memang iklim dan kondisinya berbeda dengan Amerika.

“Perlu adanya dorongan untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait hal ini dan kemudian dapat direkomendasikan kepada pemerintah” tambahnya. Kerja sama dari berbagai sektor yang dimaksud, misalnya antara dinas pertanian, perikanan dan dinas kesehatan. Ke tiga dinas itu dapat membuat Surat Keputusan Bersama (SKB) sebagai landasan untuk upaya memberikan perlindungan K-3 bagi tenaga kerja sektor informal, seperti petani dan nelayan yang masih kurang mendapat perhatian.

warta.unair.ac.id

by. humas_ua


Prof. Dr. Suhartati, dr., MS.

Rektorat, 12-05-2014

Mewaspdai Defisiensi Glukosa – 6 Fosfat Dehidrogenase (G6PD) Dalam Upaya Mewujudkan Indonesia Sehat

“Minum obat malaria bisa menyebabkan anemia,” demikian tutur Prof. Dr.

Prof. Dr. Budi Susetyo Pikir, dr., Sp.PD., Sp.JP (K)

Rektorat, 21-10-2014

Pemanfaatan Sel Punca pada Penyakit Kardiovaskuler

Teknologi stem cell (sel punca) akhir-akhir ini semakin populer dalam

Prof. Dr. Agus Yudha Hernoko, SH., MH

Rektorat, 27-10-2014

Keseimbangan Versus Keadilan Dalam Kontrak” (Upaya menata Struktur Hubungan Bisnis dalam Perspektif Kontrak yang Berkeadilan)

Dalam orasi pengukuhannya bertajuk ”Keseimbangan Versus Keadilan Dalam Kontrak” (Upaya

Prof. Dr. Adioro Soetojo, drg, MS, SpKG (K)

Rektorat, 05-06-2012

Gigi berlubang pasti terasa sakit sekali. Untuk mengobatinya, jika karies

Prof. Dr. Jenny Sunariani, drg. M.S.

Rektorat, 10-02-2010

Makanan merupakan pangkal kesehatan kita, namun kesehatan tidak ditentukan dari

Prof. Dr. Achmad Sjarwani, dr., SpB,SpOT

Rektorat, 21-01-2010

Peran Ahli Orthopaedi dan Traumatologi dalam Pengembangan Teknologi Tepat Guna dan Kedokteran Olahraga

Dalam orasi pengukuhan berjudul ”Peran Ahli Orthopaedi dan Traumatologi dalam

Prof. Dr. Peter Agus, drg., Sp.BM (K)

Rektorat, 21-01-2010

Pendekatan Terkini Deteksi Dini Molekuler Ameloblastoma Rekuren dan Kanker Rongga Mulut

Jangan sembarang menyepelekan sariawan. Meskipun sepertinya penyakit yang simpel dan

Prof. Dr. Abdul Hafid Bajamal, dr., Sp.BS

Rektorat, 21-01-2010

Stroke
Perdarahan Sub-Arakhnoid; Masalah Diagnosis dan Penanganan: Tantangan dan
Pengembangan Ilmu Bedah Saraf Serebrovaskuler di Indonesia

Waspadai jika Anda merasa pusing mendadak dan sangat hebat, Jangan

Prof. Dr. Eman, SH., MS.

Rektorat, 16-09-2009

Asas Pemisahan Horisontal dalam Hukum Tanah Nasional

Dalam orasi ilmiahnya ketika dikukuhkan menjadi Guru Besar bidang Ilmu

Prof. Dr. H. Erry Gumilar Dachlan, dr., Sp. OG(K)

Rektorat, 29-07-2009

Karakteristik Preeklamsia-eklamsia Indonesia serta Penyebab Utama kematian Ibu Bersalin

Ibu hamil kini tampaknya harus lebih berhati-hati akan munculnya preeklamsia.

1 2 3 4 ... 6 Next >>