Prof. Dr. H. Erry Gumilar Dachlan, dr., Sp. OG(K)

Rektorat, 29-07-2009

Guru Besar Dalam Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan Fakultas Kedokteran

Karakteristik Preeklamsia-eklamsia Indonesia serta Penyebab Utama kematian Ibu Bersalin

Waspadai Preeklamsia Pada Kehamilan

Ibu hamil kini tampaknya harus lebih berhati-hati akan munculnya preeklamsia. Preeklamsia adalah hipertensi dan proteinuria yang didaptkan setelah umur kehamilan mencapai 20 minggu. Penyakit ini masih menjadi ‘pembunuh’ nomor satu bagi ibu hamil dan janin yang dikandungnya.

Prof.Dr.H.Erry Gumilar Dachlan,dr.SpOG(K), guru besar Unair ke 358 yang dikukuhkan pada Sabtu,13 Desember 2008, mengatakan bahwa hipertensi pada preeklamsia ditimbulkan oleh desakan darah sistolik lebih besar 140 mmHg dan diastolik 90 mmHg. Ciri ibu hamil yang menderita preeklamsia adalah mengalami gejala kejang-kejang dan kaki bengkak. Tekanan darah yang cukup tinggi bisa menyebabkan pembuluh darah ibu hamil pecah.

Berdasarkan data di RSU Dr.Soetomo, kejadian preeklamsia tercatat 30 hingga 50 kasus per tahunnya. Dengan prevalensi 1,08%, angka kejadian preeklamsia ini lima kali lebih tinggi daripada angka kejadian di Bangkok dan 10 kali lebih besar dari Singapura.

Munculnya preeklamsia ini, menurut Prof.Erry, disebabkan oleh multifaktor. Beberapa faktor pencetusnya diantaranya adalah aspek imunologi, keturunan atau genetik, faktor makanan dan infeksi. “Preeklamsia ini di dunia kedokteran disebut disease of theory. Faktor penyebabnya sangat kompleks,”ujar Prof.Erry.

Di Indonesia preeklamsia mendominasi penyebab tingginya angka kematian ibu dan janin selain dua penyebab lainnya, yaitu pendarahan pasca melahirkan dan infeksi. “Saat ini juga ada pendatang baru yang menjadi penyebab kematian pada ibu dan janin yaitu penyakit jantung. Penyakit jantung ini ada dua macam. Ada yang diderita ibu hamil sebelum hamil ada yang muncul karena tidak terdeteksi sebelumnya yang disebut dengan istilah penyakit jantung rematik,”paparnya.

Ada beberapa faktor resiko tinggi ibu hamil yang rawan terserang preeklamsia. Salah satunya adalah ibu yang hamil di bawah usia 20 tahun dan diatas 35 tahun. Selain itu untuk ibu yang semenjak belum hamil sudah memiliki penyakit hipertensi maupun diabetes, resiko untuk terserang preeklamsia saat hamil juga sangat tinggi. Jika preeklamsia ini sudah akut, biasanya hanya tertolong salah satunya. “Bisa ibu atau anaknya. Namun kami para dokter akan berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya,”imbuh Prof.Erry.

Mencegah timbulnya preeklamsia memang tidak mudah. Namun menekan munculnya preeklamsia bisa dilakukan dengan mengenali faktor resiko, mengenali penyakit yang sudah diderita ibu hamil sebelumnya, dan mewaspadai kehamilan dengan cairan ketuban yang banyak. Pada prinsipnya pada kunjungan antinatal yang dilakukan harus rutin dilakukan pengecekan. Para dokter atau paramedis diharapkan juga terus memantau kemungkinan munculnya resiko preeklamsia. “Pemeriksaan intensif sebaiknya dilakukan sejak dini, yang paling baik pada usia kehamilan 14 hingga 28 minggu.”ujarnya.

warta.unair.ac.id

by. Humas UA


Prof. Rachmah Ida, Ph.D

Rektorat, 26-06-2015

Media Today Media Sebagai Refleksi Masyarakat

Media memang tidak bisa dilepaskan dari peran serta manusia. Hadirnya

Prof. Dr. Dian Agustia, Dra.,Ak.,M.Si.,CMA.,CA.

Rektorat, 12-06-2015

Peran Profesi Akuntan Manajemen Terhadap Perubahan Lingkungan Global: Prespektif Implementasi Sustainability Management Accounting

REKTORAT - WARTA UNAIR Masa depan merupakan tanggung jawab bersama, terlebih

Prof. Dr. Herry Agoes Hermadi, drh., MSi.

Rektorat, 12-06-2015

Pemberantasan Kasus Kemajiran pada Ternak menuju Kemandirian di bidang Kesehatan Reproduksi Hewan dan Ketahanan Pangan di Indonesia

Jawa Timur, sebagai gudang sapi di Indonesia, memiliki segudang masalah

Prof. Dr. Lucia Tri Suwanti, MP, drh

Rektorat, 12-06-2015

Peran Dokter Hewan dalam Pengendalian Toxoplasmosis melalui Pengembangan Kit Diagnostik dan Imunoterapi

REKTORAT - WARTA UNAIR Toxoplasmosis merupakan salah satu zoonosis, yaitu penyakit

Prof. Dr. Suhartati, dr., MS.

Rektorat, 12-05-2014

Mewaspdai Defisiensi Glukosa – 6 Fosfat Dehidrogenase (G6PD) Dalam Upaya Mewujudkan Indonesia Sehat

“Minum obat malaria bisa menyebabkan anemia,” demikian tutur Prof. Dr.

Prof. Dr. Budi Susetyo Pikir, dr., Sp.PD., Sp.JP (K)

Rektorat, 21-10-2014

Pemanfaatan Sel Punca pada Penyakit Kardiovaskuler

Teknologi stem cell (sel punca) akhir-akhir ini semakin populer dalam

Prof. Dr. Agus Yudha Hernoko, SH., MH

Rektorat, 27-10-2014

Keseimbangan Versus Keadilan Dalam Kontrak” (Upaya menata Struktur Hubungan Bisnis dalam Perspektif Kontrak yang Berkeadilan)

Dalam orasi pengukuhannya bertajuk ”Keseimbangan Versus Keadilan Dalam Kontrak” (Upaya

Prof. Dr. Adioro Soetojo, drg, MS, SpKG (K)

Rektorat, 05-06-2012

Gigi berlubang pasti terasa sakit sekali. Untuk mengobatinya, jika karies

Prof. Dr. Jenny Sunariani, drg. M.S.

Rektorat, 10-02-2010

Makanan merupakan pangkal kesehatan kita, namun kesehatan tidak ditentukan dari

Prof. Dr. Tri Martiana, dr., MS

Rektorat, 27-10-2014

Revitalisasi K-3 Melalui Paradigma Sehat (Sebagai Optimalisasi Pencegahan Kecelakaan dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja)

Setiap pekerjaan di dunia ini hampir pasti tak ada yang

1 2 3 4 ... 6 Next >>