Guru Besar

  



Memulai dengan Pembangunan Yang Berwawasan Kesehatan

Prof. Dr. H. Tjipto Suwandi, dr., M.OH.

Guru Besar Ilmu Kesehatan dan Kesel
Tanggal Pengukuhan : --
Fakultas : Kesehatan Masyarakat
Pidato : Peran Ilmu Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Masa Depan

FKM, Kampus C, Unair. "Unair bagi saya, ibaratnya sudah mendarah daging. Sudah sejak 1964 saya berada di kampus ini," ungkap Prof. Dr. H. Tjipto Suwandi, dr., M.OH, sembari mengawali pembicaraan. Pria kelahiran Bojonegoro ini juga mengakui bahwa dominasi masih di bidang kedokteran. Banyak orang mengira mahasiswa yang sekolah di Unair adalah dokter. Imbasnya, jenjang pendidikan S3 di Unairpun masih menyediakan bidang kedokteran saja. Menurutnya, Unair harus mulai fokus. Program studi yang ditawarkan hingga ke tingkat doktoral, juga musti cocok dengan bidang ilmu para peminat. Menurut pengamatannya, peminat dari disiplin ilmu yang lain merasa kesulitan ketika hendak melanjutkan studi di Unair. Mereka harus bertemu dengan ilmu-ilmu kedokteran yang masih asing. Di sisi lain, mereka memang dituntut untuk menyelesaikan program doktornya di Unair. Sembari berkisah, Prof. Tjipto menyatakan pernah bertemu dengan seorang guru besar yang juga lulusan S3 Unair, suatu ketika dimintai obat untuk penyembuhan penyakit. Padahal ia berlatarbelakang ilmu ekonomi dan sama sekali bukan seorang dokter yang bisa mengobati pasien.

Dikisahkan pula bahwa Fakultas yang dipimpinnya kini, juga masih banyak memanfaatkan tenaga dari orang-orang kedokteran. Secara historis, FKM memang berawal dari prodi IKM yang ada di Kedokteran. "Unair adalah prodi kesahatan masyarakat pertama yang menerima mahasiswa dari lulusan SMA," tutur lulusan University of the Philipine ini. Di awal berdirinya sebagai Fakultas di tahun 1993, Prof. Tjipto bahkan sempat mengajak tenaga IKM untuk bedhol desa ke FKM di kampus C. Untuk ke depan, dokter penasehat Depnaker Jatim ini menginginkan ada perubahan kurikulum di FKM Unair. "Berharap ada pendidikan profesi kesehatan masyarakat. Yakni mencetak petugas pelayan kesehatan yang profesional," ujar anggota APACPH yang satu ini. Sebagai payung, kami telah menyepakati Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) sebagai asosiasi profesinya.

Sehubungan dengan pendidikan di Unair, Prof. Dr. H. Tjipto Suwandi, dr., M.OH, berharap agar dosen-dosen di Unair kembali kepada Tri Dharmanya. "Tidak hanya mengajar, tetapi juga meneliti dan mengabdi. Beban mengajar sudah ketat, hingga dosen lupa meneliti," terang Dekan FKM Unair ini. Menurutnya, Unair perlu meningkatkan kualitas SDM yang kini sudah ada. Karena itulah, Dekan FKM ini sangat getol untuk mendorong para dosen agar mau bersekolah di luar negeri. "Kita lihat bahwa kesehatan masyarakat berkembang pesat di luar negeri. Sementara kita harus terus mengejarnya," terang guru besar dalam ilmu keselamatan dan kesehatan kerja ini. Untuk menyiasatinya, sementara ini FKM rajin berlangganan jurnal-jurnal imiah dari salah satu penerbit di USA.

Berbicara mengenai Unair, sebenarnya stressing kita tetap di SDM. "Perlu manajemen yang mengarah pada perbaikan secara terus menurus," ujar Prof. Tjipto. Artinya, yang dikerjakan saat ini harus bisa dijadikan evaluasi untuk pekerjaan berikutnya. "Tidak harus disibukkan masalah dana saja. Tapi perlu komitmen dan semangat," imbuh anggota IAKMI ini. Menurutnya, perbaikan berkelanjutan memang harus dilakukan secara bersama-sama. Kita butuh penyegaran sistem administrasi dan menekan praktek-praktek nakal. "Jadi pimpinan di Unair harus telaten, butuh improvisasi tiada henti," tandas Prof. Tjipto. Unair juga harus mau belajar, baik itu dari pengalaman maupun mengaca pada keberhasilan pihak-pihak luar. Secara pribadi, Prof. Tjipto mengaku tidak sependapat jika memandang manusia sebagai aset. Justeru manusialah pemilik aset itu sendiri. Manusia punya ide yang bisa membongkar aset. "Manusia punya hak mengolah aset. Dan kita harus memanusiakan manusia," pungkas Dekan FKM. Selalu ada ide baru dari manusia. Meski ide itu datang dari tukang sapu sekalipun, jika memang bagus haruslah kita ambil. Karyawan Unair harus diperlakukan sebagai manusia. "Mereka harus mendapat pendidikan, dibangun kesejahteraannya, dan juga bisa diambil ide-idenya," tutur Prof. Tjipto.

Melihat perkembangan bangsa ini, Prof. Tjipto sependapat bahwa arah pembangunan harus berwawasan kesehatan. "Sudah ada Indonesia Sehat 2010. Harusnya ada juga program Unair Sehat, kita juga berkewajiban untuk memulainya," usul instruktur Amdal ini. Kita harus terbiasa mengusung paradigma sehat dan jaminan pelayanan kesehatan di masyarakat. Unair harus mempeloporinya, yakni dengan berwawasan kesehatan dalam memulai setiap pembangunan kampus yang dilakukannya. Mengingat banyaknya permasalahan yang ada, Prof. Tjipto menyarankan agar pihak yang berkompeten rajin bernegosiasi dengan orang-orang di bidang pemerintahan. "Di sini Unair bisa proaktif untuk menjalin komunikasi dengan para pengambil kebijakan. Sesuaikan dengan perubahan pembangunan," terang peraih Satya Lencana Karya Satya ini. Diharapkan, konsep pembangunan berwawasan kesehatan yang dikuasai secara teoritis, dengan serta merta dapat pula dilihat faktanya di masyarakat.FKM, Kampus C, Unair. "Unair bagi saya, ibaratnya sudah mendarah daging. Sudah sejak 1964 saya berada di kampus ini," ungkap Prof. Dr. H. Tjipto Suwandi, dr., M.OH, sembari mengawali pembicaraan. Pria kelahiran Bojonegoro ini juga mengakui bahwa dominasi masih di bidang kedokteran. Banyak orang mengira mahasiswa yang sekolah di Unair adalah dokter. Imbasnya, jenjang pendidikan S3 di Unairpun masih menyediakan bidang kedokteran saja. Menurutnya, Unair harus mulai fokus. Program studi yang ditawarkan hingga ke tingkat doktoral, juga musti cocok dengan bidang ilmu para peminat. Menurut pengamatannya, peminat dari disiplin ilmu yang lain merasa kesulitan ketika hendak melanjutkan studi di Unair. Mereka harus bertemu dengan ilmu-ilmu kedokteran yang masih asing. Di sisi lain, mereka memang dituntut untuk menyelesaikan program doktornya di Unair. Sembari berkisah, Prof. Tjipto menyatakan pernah bertemu dengan seorang guru besar yang juga lulusan S3 Unair, suatu ketika dimintai obat untuk penyembuhan penyakit. Padahal ia berlatarbelakang ilmu ekonomi dan sama sekali bukan seorang dokter yang bisa mengobati pasien.

Dikisahkan pula bahwa Fakultas yang dipimpinnya kini, juga masih banyak memanfaatkan tenaga dari orang-orang kedokteran. Secara historis, FKM memang berawal dari prodi IKM yang ada di Kedokteran. "Unair adalah prodi kesahatan masyarakat pertama yang menerima mahasiswa dari lulusan SMA," tutur lulusan University of the Philipine ini. Di awal berdirinya sebagai Fakultas di tahun 1993, Prof. Tjipto bahkan sempat mengajak tenaga IKM untuk bedhol desa ke FKM di kampus C. Untuk ke depan, dokter penasehat Depnaker Jatim ini menginginkan ada perubahan kurikulum di FKM Unair. "Berharap ada pendidikan profesi kesehatan masyarakat. Yakni mencetak petugas pelayan kesehatan yang profesional," ujar anggota APACPH yang satu ini. Sebagai payung, kami telah menyepakati Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) sebagai asosiasi profesinya.

Sehubungan dengan pendidikan di Unair, Prof. Dr. H. Tjipto Suwandi, dr., M.OH, berharap agar dosen-dosen di Unair kembali kepada Tri Dharmanya. "Tidak hanya mengajar, tetapi juga meneliti dan mengabdi. Beban mengajar sudah ketat, hingga dosen lupa meneliti," terang Dekan FKM Unair ini. Menurutnya, Unair perlu meningkatkan kualitas SDM yang kini sudah ada. Karena itulah, Dekan FKM ini sangat getol untuk mendorong para dosen agar mau bersekolah di luar negeri. "Kita lihat bahwa kesehatan masyarakat berkembang pesat di luar negeri. Sementara kita harus terus mengejarnya," terang guru besar dalam ilmu keselamatan dan kesehatan kerja ini. Untuk menyiasatinya, sementara ini FKM rajin berlangganan jurnal-jurnal imiah dari salah satu penerbit di USA.

Berbicara mengenai Unair, sebenarnya stressing kita tetap di SDM. "Perlu manajemen yang mengarah pada perbaikan secara terus menurus," ujar Prof. Tjipto. Artinya, yang dikerjakan saat ini harus bisa dijadikan evaluasi untuk pekerjaan berikutnya. "Tidak harus disibukkan masalah dana saja. Tapi perlu komitmen dan semangat," imbuh anggota IAKMI ini. Menurutnya, perbaikan berkelanjutan memang harus dilakukan secara bersama-sama. Kita butuh penyegaran sistem administrasi dan menekan praktek-praktek nakal. "Jadi pimpinan di Unair harus telaten, butuh improvisasi tiada henti," tandas Prof. Tjipto. Unair juga harus mau belajar, baik itu dari pengalaman maupun mengaca pada keberhasilan pihak-pihak luar. Secara pribadi, Prof. Tjipto mengaku tidak sependapat jika memandang manusia sebagai aset. Justeru manusialah pemilik aset itu sendiri. Manusia punya ide yang bisa membongkar aset. "Manusia punya hak mengolah aset. Dan kita harus memanusiakan manusia," pungkas Dekan FKM. Selalu ada ide baru dari manusia. Meski ide itu datang dari tukang sapu sekalipun, jika memang bagus haruslah kita ambil. Karyawan Unair harus diperlakukan sebagai manusia. "Mereka harus mendapat pendidikan, dibangun kesejahteraannya, dan juga bisa diambil ide-idenya," tutur Prof. Tjipto.

Melihat perkembangan bangsa ini, Prof. Tjipto sependapat bahwa arah pembangunan harus berwawasan kesehatan. "Sudah ada Indonesia Sehat 2010. Harusnya ada juga program Unair Sehat, kita juga berkewajiban untuk memulainya," usul instruktur Amdal ini. Kita harus terbiasa mengusung paradigma sehat dan jaminan pelayanan kesehatan di masyarakat. Unair harus mempeloporinya, yakni dengan berwawasan kesehatan dalam memulai setiap pembangunan kampus yang dilakukannya. Mengingat banyaknya permasalahan yang ada, Prof. Tjipto menyarankan agar pihak yang berkompeten rajin bernegosiasi dengan orang-orang di bidang pemerintahan. "Di sini Unair bisa proaktif untuk menjalin komunikasi dengan para pengambil kebijakan. Sesuaikan dengan perubahan pembangunan," terang peraih Satya Lencana Karya Satya ini. Diharapkan, konsep pembangunan berwawasan kesehatan yang dikuasai secara teoritis, dengan serta merta dapat pula dilihat faktanya di masyarakat.

Selama ini diakui bahwa orang Unair masih belum berani keluar. "Bagaimana bisa orang tahu potensi kita, kalau tidak dipromosikan," ujar ahli Hiperkes ini. Diharapkan dengan potensinya, Unair dapat lebih berperan, mengisi, dan memajukan pembangunan yang berwawasan kesehatan. Harus dipahami bahwa Departemen Kesehatan bukanlah Departemen Kedokteran. "Dalam hal WC umum saja kita masih jauh ketinggalan. Belum lagi masalah limbah dan sampah," urai anggota IDKI ini. Oleh karenanya kesehatan publik harus mendapat penanganan yang berbeda dengan kesehatan individu.

Selama ini diakui bahwa orang Unair masih belum berani keluar. "Bagaimana bisa orang tahu potensi kita, kalau tidak dipromosikan," ujar ahli Hiperkes ini. Diharapkan dengan potensinya, Unair dapat lebih berperan, mengisi, dan memajukan pembangunan yang berwawasan kesehatan. Harus dipahami bahwa Departemen Kesehatan bukanlah Departemen Kedokteran. "Dalam hal WC umum saja kita masih jauh ketinggalan. Belum lagi masalah limbah dan sampah," urai anggota IDKI ini. Oleh karenanya kesehatan publik harus mendapat penanganan yang berbeda dengan kesehatan individu.

Kamis, 24-Apr-2014              


Agenda

    Profil Elvira Devinamira Wirayanti

    • KANTOR MANAJEMEN  – WARTA UNAIR

      Malam Grand Final Pemilihan Puteri Indonesia 2014 di Plenary Hall Jakarta Convention Center agaknya merupakan malam saat mimpi Elvira Devinamira Wirayanti menjadi nyata. Bagaimana tidak? Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Airla