LPSE UNAIR Jamin Transparansi Pengadaan Barang dan Jasa

Rektorat, 06-10-2011

Sebagai bagian dari langkah untuk menjamin transparansi dan akuntabilitas pengadaan barang dan jasa di Universitas Airlangga meresmikan dan mensosialisasikan Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) di Aula Garuda Mukti lantai 4 Kantor Manajemen Universitas Airlangga (15/9). Peresmian LPSE ini bekerja sama dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), satu-satunya lembaga pemerintah yang bertugas melaksanakan pengembangan dan perumusan kebijakan pengadaan barang/jasa pemerintah.

Dengan diresmikannya LPSE ini, Unair diharapkan dapat segera menyelenggarakan pengadaan barang/jasa secara elektronik (e-procurement) dengan memanfaatkan fasilitas teknologi IT. Rektor Unair Prof. Fasich, Apt., mengatakan, sejak menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN), Unair semakin mendorong adanya transparansi dalam pelaksanaan kegiatannya.

 “Melalui implentasi Airlangga Intergrated Managing System (AIMS) dan pelaksanaan Cyber Campus, serta peresmian LPSE, ini merupakan komitmen Unair untuk mendukung transparansi,” ucap Prof. Fasich dalam pidato pembukaan LPSE tersebut.

LPSE sendiri merupakan unit kerja yang dibentuk di lingkungan Universitas Airlangga untuk melayani Unit Layanan Pengadaan (ULP). Bahkan LPSE Unair juga dapat melayani panitia ULP dari instansi lain terdekat yang belum memiliki layanan e-Procurement.

LPSE merupakan perwujudan dari konsep e-Procurement (pengadaan barang/jasa secara elektronik), dan aplikasinya tidak memerlukan biaya lisensi (open source and free license). Pemerintah menargetkan pengadaan barang/jasa secara elektronik di seluruh instansi pemerintah pada 2014. Menurut Kepala LKPP Ir. Agus Rahardjo, MSM., pengadaan barang/jasa bagi pemerintah nilainya besar sekali, mencapai Rp 450 triliun setiap tahun. Karena itu, perlu transparansi agar tidak terjadi penyimpangan.

Agus mengatakan, penerapan e-Procurement memberikan banyak keuntungan baik dari sisi pengguna maupun dari penyedia barang/jasa. Dari sisi penyedia, banyak biaya yang bisa dihemat, seperti biaya transportasi, akomodasi, konsolidasi, dan biaya cetak dokumen, sehingga nilai jual barang/jasa bisa turun secara optimal. Dari sisi pengguna, dapat diperoleh iklim persaingan sehat dan adil antar penyedia. Pengguna memiliki lebih banyak pilihan serta mendapatkan penawaran yang lebih murah dengan kualitas lebih baik.

“Panitia lelang seperti LPSE bertindak seperti penyedia tempat transaksi. Sebelum tanggal dibukanya lelang, tidak ada seorang pun yang bisa memasukkan penawaran, termasuk pihak LPSE,” ungkap Agus.

Ketua LPSE Unair Ir. Soegianto Solistiono, M.Si., juga berpendapat serupa. Soegianto juga menjamin masalah bandwidth juga tidak akan terjadi, karena LPSE Unair menyediakan kecepatan akses yang besar, mencapai 100 Mb. Bagi peserta lelang yang tidak memiliki komputer atau akses internet seperti usaha kecil dan menengah, bisa menggunakan komputer di ruang LPSE. Soegianto berharap, dengan diresmikannya LPSE ini, Unair dapat membantu menciptakan persaingan sehat antar pelaku usaha dan membantu negara mewujudkan optimalisasi dan efisiensi belanja negara.

Selain dihadiri oleh Rektor Unair dan Kepala LKPP, peresmian LPSE Unair ini dihadiri juga oleh Deputi Bidang Hukum dan Penyelesaian Sanggah LKPP Ir. Djamaludin, M.Si.

 

warta.unair.ac.id

by. humas_ua