Bawa Tas Kulit Etnik Rambah Internasional Monday, 03 February 2014

FEB – Warta Unair

Dimas telah lama bergelut di dunia usaha tas, dimulai dengan usaha Raja Tas yang fokus pada produksi dan pemasaran tas spunbond untuk acara-acara dan seminar kit. Usaha tas itupun kini berkembang, Dimas mendirikan lini usaha baru di bidang tas. Dengan merk “Bralin”, Dimas menggebrak pasar nasional dan juga internasional nantinya. Produk tas “Bralin” sendiri merupakan tas kulit etnik dengan teknit jahit anyam dan full handmade.

“Kami memadukan tas model indian dengan teknik jahit anyam sehingga tampak baru dan unik bagi setiap kosumen kami,” papar Dimas, mahasiswa Akuntansi Universitas Airlangga angkatan 2010. Dimas menjelaskan bahwa pasar dari “Bralin” menyasar di daerah pariwisata nasional dan juga internasional nantinya dengan target pasar pecinta kulit, wanita, dan kaum hippies. “Bralin” dipasarkan oleh Dimas dengan sistem agen dan reseller yang tersebar di Surabaya, Yogya, Solo, dan Bali.

Dimas dan tim “Bralin” mengawali tahun 2014 ini dengan prestasi cemerlang. Dimas menjadi pemenang Wirausaha Muda Mandiri (WMM) Regional Jatim dengan predikan Wirausaha Muda Mahasiswa Terkreatif. Ia bersaing ketat dengan dengan 6700 peserta lainnya untuk menjadi 53 finalis WMM. “Alhamdulillah dengan adanya kompetisi dari Bank Mandiri tersebut kami mohon doanya untuk bisa segera merambah pasar USA-Canada-Korsel dll,” tukas Dimas.

Tantangan mengikuti WMM ini bagi Dimas sangat kompleks bagi seorang wirausaha muda. “Apapun kata orang terhadap saya, saya tetap menganggap diri ini masih berstatus “start up”. Masih butuh banyak menuntut ilmu. WMM ini bukan lomba perencanaan bisnis tapi sebuah event penganugerahan atas sebuah effort yang kita usahakan selama ini,” paparnya.

Menurutnya, ternyata menerangkan apa yang kita atau perusahaan proyeksikan itu lebih mudah daripada menerangkan apa yang telah kita atau perusahaan raih. “Saya mengalami kejadian unik saat seleksi kota. Saat itu saya sepakat melakukan wawancara dan penyerahan berkas perusahaan di sebuah pusat perbelanjaan. Tidak dinyana ternyata STNK motor saya ketinggalann dan saya tidak bisa masuk. Saya sudah konfirmasi dan hanya melakukan wawancara via telepon. Harapan saya kecil, namun ternyata diam-diam PIC WMM Jatim “iseng” membuktikan eksistensi produk kami di pasaran bebas dengan mengunjungi Mirota Surabaya. Dan luar biasa saya lolos ke Jawa Timur hingga tingkat Nasional,” jelas Dimas.

Selama mengikuti WMM 2014, Dimas turut mengikuti agenda utama panitia yaitu bootcamp, penjurian final, dan penganugerahan sekaligus pameran di Hotel Ibis Jakarta dan Istora Senayan. Walaupun tidak menjadi juara tingkat nasional, Dimas mendapatkan pengalaman berharga selama WMM. “Saya kira dengan mengikuti WMM dan mencapai final ini adalah aktifitas investasi tidak ternilai. Terbukti dengan terbukanya pasar ASIA-USA-CANADA, serta tawaran untuk langsung hadir di event INA CRAFT 2014. Lebih dari itu, pembinaan yang dilakukan mandiri dengan jangka waktu “selamanya” itu juga telah menjadi pencapaian yang tak ternilai lainnya yang patut saya syukuri,” jelas Dimas mengakhiri percakapan dengan Warta Unair. Nunk